Rabu, 07 Oktober 2020

Nubdzatul Fawaaidi : Siapakah Al Firqoh An Najiyah ?

 

بسم الله الرحمن الرحيم

SIAPAKAH GOLONGAN YANG SELAMAT?

(Faedah dari kitab "Al Firqoh An Naajiyah" karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

1. Golongan yang selamat adalah yang mengikuti prinsipnya Rasulullah salallahu alaihi wa sallam,  Sahabat,  Tabiin,  dan Atbaaut Taabiin Radhiyallahu Anhum.

2. Mereka adalah golongan yang  kembali kepada Al Quran dan As Sunnah bila menemui perbedaan pendapat.

3. Mereka adalah golongan yang mendahulukan Al Quran dan As Sunnah (Hadis) sebelum perkataan-perkataan lainnya.

4. Mereka yang fokus kepada  tauhid  dan menjauhi kesyirikan (yang merupakan konsekuensi dari tauhid). Karena itulah yang utama sebelum hal lainnya. Sebagaimana dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendakwahkan tauhid dan memberantas kesyirikan terlebih dahulu sebelum mendakwahkan umat kepada hal lainnya.

5. Mereka yang suka menghidupkan sunnah-sunnah Rasulnya sallallahu alaihi wa sallam,  dalam setiap aspeknya, sehingga mereka terlihat asing di tengah-tengah kaumnya, juga terlihat berbeda dengan masyarakatnya.

6. Mereka yang tidak fanatik terhadap suatu golongan/madzhab/ulama/ustadz karena manusia itu tidak  ada yang maksum (murni dari dosa). Sesungguhnya orang-orang salaf sejati adalah mereka yang kembali kepada Al Quran dan As Sunnah bukan fanatik terhadap suatu golongan/madzhab/ulama/ustadz .

7. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan prinsip sesuai Ahlul Hadis (setiap ulama yang kembali kepada perkataan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam yang shahih).

 8. Mereka yang tetap menghormati ulama walau mendapati perbedaan pendapat,   dan tidak taashub (fanatik) terhadap salah satu diantara mereka. Mereka kembali kepada perkataan ulama yang paling sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah,  yang paling shahih dalilnya.

9. Mereka yang amal ma'ruf dan nahi munkar serta meninggalkan perkara bid'ah dan hizbiyyah.

10. Mereka yang mengiginkan kebaikan pada dirinya dan muslim lainnya. Ia suka menasehati dan dinasehati,  saling berbuat kebaikan dan diajak kepada kebaikan, dan lain-lain.

11. Mereka adalah yang fokus kepada hukum-hukum Allah, yakni ayat Al Quran dan As Sunnah serta menjadikan keduanya pegangan. Kemudian meninggalkan hukum wad'iy (hukum yang dibuat manusia, seperti undang-undang manusia, dll) yang menyelisihi hukum islam. Adapun bila selaras dengan hukum islam maka tidak mengapa, namun dengan tetap meyakini bahwa hukum Allah-lah yang terbaik dan utama. 

12. Mereka yang mengajak kepada seluruh orang muslim agar berjihad di jalan Allah (Jihad ada tiga : Jihad dengan lisan/pena,  jihad dengan harta,  jihad dengan jiwa).

 والله أعلم بالصواب

Biografi : DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan Penulis Kitab Durusul Lughoh Al Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Karya DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan kitab “Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa”

Ditulis oleh : Nafila Imani Haris

Dikoreksi oleh : Ustadz Aris Saifuddin, Lc. Hafidzhahullahu Taala

 

A.    Tentang Buku :

·       Judul : Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa Jilid Pertama

·       Cetakan tahun : 1418 H

·       Daftar isi buku : Sampul depan, Basmalah, Isi (Pelajaran 1-23), Daftar isi.

·       Metode Pembelajaran :

o   Belajar tentang akhiran yang umum yaitu tanwin, kemudian setelahnya baru mempelajari mamnu’ minas sharf.

o   Belajar tentang isim mufrod sebelum belajar tentang isim dual dan jamak.

o   Belajar jamak saliim sebelum mempelajari jamak taksiir.

o   Belajar Fi’il Shahih Akhir sebelum mempelajari Fi’il Mu’tal akhir, lalu Af’alul Khamsah.

o   Belajar Mudhari Marfu’, sebelum mempelajari Mudhari Mansub dan Majzum.

 

B.    Tentang Penulis

·       Nama Penulis : Syeikh Doktor V(Vaniyambadi) Abdurrahim bin Abdussubhan.

·       Tempat Tanggal Lahir : Lahir di kota Vaniyambadi di wilayah Tamil Nadu India pada tanggal 7 Mei 1933 M (1356 H). Sebuah kota kecil namun merupakan kota penting yang menjadi pusat perdagangan.

·       Kegiatan Penulis : Pengajar Bahasa Arab bagi penutur asing di Universitas Islam Madinah, seorang pakar, leksikograf (mempelajari ilmu penyusunan kamus), linguis (ahli Bahasa) yang mahir. Beliau juga penanggung jawab dalam Mujama Malik Fahd (percetakan quran terbesar) dalam qism penerjemahan, dan telah menerjemahkan al quran ke dalam 71 Bahasa.

·       Sejarah Pendidikan :

o   Universitas Madras, Jurusan Bahasa Inggris, tahun 1957.

o   Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, Jurusan Studi Arabic, 1964, mendapat gelar M.Phil dan Ph.D.

·       Metode beliau dalam belajar dan mengajar :

o   Menghafal Wazn

o   Taqdiim Al-‘Ushuul ‘Ala Al-Furu’ (Belajar dari dasar sebelum meloncat ke pembelajaran yang lebih kompleks)

·       Beliau telah menulis 35 kitab, dan diantara karya beliau :

o   Durusul lughoh,

o   Kitab Al Mu’rob LilJawaliqi (judul desertasi S3 beliau),

o   Kitab Al’I’lam Bi Ushuulil A’lam,

o   Kitab Sawa As Sabil,

o   Kitab Mu’jamud Dakhiin,

o   Kitab Arbau Hadiisan,

o   Mu’jamul Masaaili Nahwiyah Wa Sharfiyah,

o   Nushus Islamiyyah,

o   Let’s Begin to Read Arabic : A Beginners Guide

o   At- Tibyan : Easy Way to Qur-aanic Reading

o   Dll.

·       Kemampuan Bahasa :

o   Menguasai 12 Bahasa (yang beliau sebutkan) karena besarnya minat beliau untuk mengajarkan Bahasa arab kepada orang-orang non arab.

o   Diantara Bahasa yang ia kuasai adalah :  Bahasa Urdhu (Bahasa ibu), Bahasa Inggris, Bahasa Arab (otodidak), Bahasa Persia (Bahasa di sekolah Chennai), Bahasa Turki (belajar agar bisa memahami muridnya), Bahasa Jerman (beliau diutus oleh Universitas Islam Madinah 10 tahun, untuk mengajarkan Bahasa arab. Pertama, beliau mengadakan dauroh  di kota Berlin dan sisanya beliau mengajar di kota-kota kecil di Lutherbach), Bahasa Ibrani, dan Bahasa Suryani (belajar dari buku dan internet) , Bahasa Yunani dan Bahasa Latin (beliau belajar di Universitas Chennai karena keduanya akar dari Bahasa inggris).

·       Perjalanan Pendidikan :

o   Pada awalnya beliau belajar bahasa arab secara otodidak, dan banyak sekali problematika yang dihadapi olehnya sebagai pembelajar Bahasa arab (non arab).

o   Mengawali perjalannya dalam mempelajari Bahasa arab beliau membaca buku Bahasa arab dengan terjemahan Bahasa Inggris dan Bahasa Urdhu.

o   Setelah itu, ketika beliau sudah mulai memahami Bahasa arab dasar,  beliau mulai mendengarkan radio berbahasa arab. Seperti radio cairo  (Soutul Arob), radio Al-Quranul Kariim (nidaaul islam dan Makkah al mukaramah) ini terjadi pada pertengahan tahun 69-70 Hijriyah / 1950 masehi. Setelah itu beliau pindah ke kota Madros (Chennai).

o   Kemudian disana beliau menghubungi beberapa kedutaan untuk mengirimkan kepadanya koran-koran dan majalah berbahasa arab, semua tujuannya untuk mengokohkan Bahasa arab beliau.

o   Beliau juga semangat menemui orang-orang arab yang datang, karena Chennai adalah kota besar dan terdapat banyak sekolah dan kampus maka banyak orang-orang arab yang datang kesana. Biasanya orang-orang ini adalah qori yang menjadi imam di bulan Ramadhan yang khusus didatangkan dari negeri arab.

o   Suatu hari ada daa’i datang dari Madinah dan beliau mengambil ini sebagai kesempatan untuk mengambil faedah darinya selama dua puluh empat jam.

o   Beliau juga pernah bertemu dengan seseorang berasal dari Bahrain, ia adalah seorang pengemis, kemudian beliau mengajaknya ke rumah untuk dijamu, dan setelahnya syeikh mengambil faedah Bahasa darinya. Syeikh selalu mengambil faedah bila bertemu dengan orang arab, dan ini adalah bentuk kecintaan beliau terhadap Bahasa arab.

o   Pada tahun 1964 M beliau pergi ke Mesir. Beliau pergi kesana karena keinginan yang kuat untuk bisa kuliah di timur tengah untuk mempelajari Bahasa arab. Ia bisa sampai setelah mengirim surat kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, pada bulan ied fitri dengan permintaan bahwa beliau ingin belajar di cairo mesir. Dua sampai tiga minggu kemudian, datang surat balasan dari wakil presiden, Hussen El-Shafei (yang pada saat itu adalah penanggungjawab di Al Azhar, tertulis bahwa “Anda diterima di Al Azhar sampaikan surat balasan ini ke kedubes Mesir di New Delhi”  Dan beliau pun berangkat pada bulan januari tahun 1964 M.

o   Di Mesir beliau tinggal di kota Nashiir Buhus lilislamiyah, kotanya para pelajar.

o   Beliau masuk ke dalam Fakultas Bahasa Arab di Universitas Al Azhar. Pada saat itu ijazah S2 syeikh dari Universitas Aligarh tidak diakui oleh Universitas Al Azhar, sehingga syeikh harus mengulang S2 kembali. Setelah melewati pembelajaran, akhirnya ia menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan tesis bertemakan “Kosa kata Bahasa perancis yang di-Arab-kan.”

·       Syeikh dan Madinah

o   Beliau tinggal di Madinah kurang lebih lima puluh tahun, sampai hari ini.

o   Beliau mengatakan, “Sebaik-baiknya hidup di dunia adalah hidup di Madinah Munawwaroh.

·       Syeikh tentang pembelajaran Bahasa arab

o   Beliau mengatakan, “sesungguhnya Bahasa arab adalah Bahasa yang mudah, namun orang-orang, para guru, metode, dan siswalah yang mempersulitnya. Mereka menyulitkan dengan metode yang mereka buat sendiri, dengan menjelaskan sesuatu yang rumit semenjak awal pembelajaran.”

·       Awal mula beliau menulis kitab durussulughoh

o   Beliau membuat silabus untuk pelajar di Universitas Madinah, setiap malam beliau mempersipakan dan menulis bahan ajar, semua beliau tulis dengan kesungguhan, dan aku bagikan kepada murid-muridku di Jamiiah pada pagi harinya.

o   Jilid pertama dari silabus ini selesai aku tulis dan ajarkan (selama 6 bulan), kemudian diterbitkan oleh jamiiah dan berikutnya terbit jilid kedua dan ketiga.

o   Beberapa bulan kemudian Jamiiah Islamiyyah Madinah (Universitas Madinah) mengadakan dauroh (seminar) di berbagai negara-negara di seluruh dunia, dan membagikan modul ini. Dan begitulah bagaimana buku ini tersebar.

o   Mulai dari saat itu silabus atau modul ini diperbanyak oleh beberapa orang, ada yang meminta izin dari beliau ada juga yang tidak.

o   Bahkan ada sebuah negara yang mencetak tanpa izin dan menghilangkan nama beliau.

·       Tambahan :

o   Salah satu kitab beliau yang terkenal juga adalah : “Europe Speaks Arabic” dimana syeikh menyebutkan kurang lebih 200 kosa kata Bahasa arab yang menjadi bagian Bahasa inggris dan perancis, dan  beliau juga menyampaikan hal ini dalam 10 bahasa yang berbeda. Buku Europe Speaks Arabic : mengandung Bahasa-bahasa eropa yang terkandung di dalamnya Bahasa arab. Contoh : Kata Trafalgar Square (kata-kata ini ada di jantung London). Artinya dalam Bahasa arab adalah : Pinggir gua (طرف الغار)

o   Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan beliau adalah :

1.     Senantiasa meminta dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat.

2.     Senantiasa memiliki ‘azm dan semangat yang kuat dalam berthalabul ‘ilmi.

3.     Meyakini bahwa siapa yang Allah kehendaki maka ia akan mendapatkan keutamaan pada kehidupannya.

4.     Tidak ada seorangpun yang tidak mampu untuk mempelajari sesuatu, karena Allah Maha Mendegar dan Mengetahui setiap doa, keinginan dan usaha hambanya.

5.     Istiqomah dalam menuntut ilmu.

6.     Sesungguhnya tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu, karena yang kelak akan dinilai oleh Allah bukan yang paling banyak amalanya, namun yang paling baik amalannya.

Wallahu Ta’aala A’lam Bis Shawab.

 

Sumber tulisan :

1.     Maktabah Syameela

2.     Video wawancara : https://youtu.be/5wUY8EKR6y8

3.     Artikel https://belajarbahasaarabdasar.blogspot.com/2018/11/biografi-dr-v-abdur-rahim-penulis-durusul-lughah.html?m=1

Selasa, 29 September 2020

"Janganlah kau terburu-buru dalam menuntut ilmu"


Beberapa bulan yang lalu Ana menyampaikan pada seorang Syeikh (semoga Allah melindungi beliau), tentang Ana yang merasa tidak ada perkembangan dalam pemahaman ilmu terutama dalam ilmu bahasa arab. Kemudian Beliau menasehati Ana,  "Nafilah Sesungguhnya kamu bukanlah tidak mengalami perkembangan,  melainkan kamu tidak merasakan perkembangan itu atau mungkin belum,  namun tunggulah beberapa tahun,  maka kamu akan melihat perkembangan yang lebih banyak."

Hari ini, kala Ana mendengar muhadoroh syeikh profesor doktor Abdus Salam As Syuwair (semoga Allah melindungi beliau) : 

"Kalau kamu mengira bahwa kamu belum merasakan manfaat dari ilmumu, sesungguhnya kamu sudah mengambil manfaat darinya,  tapi kamu belum bisa mengetahui kemanfaatannya kecuali setelah kamu menghabiskan waktu yang lebih lama lagi di majelis ilmu." 

Dari kedua nasehat ini, maka Ana pun tahu bahwa ilmu tidaklah didapat satu atau dua hari,  akan tetapi didapat oleh waktu yang lama. Mungkin sekarang, Ana belum merasakan manfaat atau perkembangan dari ilmu yang sedang dipelajari. Namun setelah bertahun tahun dengan terus menuntut ilmu maka -dengan izin Allah- semoga Ana akan mengetahuinya.

Kesimpulannya :

"Terburu buru dalam menuntut ilmu itu adalah hal yang bahaya,  janganlah seseorang terburu-buru dalam mendapatkannya,  tidak juga dalam memahaminya,  tidak juga dalam menghafalnya,  dan tidak juga dalam mengajarkannya. Karena sungguh,  ilmu itu tidak didapatkan dengan terburu-buru, melainkan didapatkan dengan perlahan-lahan."

Wallahu Ta'aala A'lam bis shawab
-Bintu Haris

"Kan Kugunakan Waktu Ini Sebaik-baiknya"

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara :
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.” 
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341, Hadis Shahih)

Ummahat dan Akhowat yang Kami cintai karena Allah, tak ada yang tau kapan Allah akan memulangkan kita semua ke kampung akhirat.

Telah dikabarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara,  maka yang harus kita lakukan adalah mencari bekal sebaik-baiknya untuk kelak mencapai kebahagiaan akhirat yang abadi. Kita ini layaknya musafir, yang pasti akan kembali.

Maka manfaatkanlah setiap waktu yang Antunna miliki. Bila sebelumnya disibukkan dengan menuntut ilmu di suatu majelis,  kemudian Allah takdirkan antunna tak bisa lagi menuntut ilmu di majelis tersebut,  maka janganlah waktu-waktu yang biasa antunna gunakan dalam kemanfaatan itu hilang begitu saja. 

Bergegaslah untuk mencari majelis lain, yang dapat menyibukkan Antunna dari kesibukkan dunia yang tak ada manfaatnya. Karena seorang mumin dan muminah yang sejati adalah yang istiqomah dalam setiap amalannya.

Hari ini pintu-pintu majelis ilmu dibuka dengan lebarnya,  tak ada satu waktu pun yang tak bisa kita temukan kecuali di dalamnya terdapat majelis-majelis ilmu. Apalagi dengan wasilah yang ada pada zaman ini, keberadaan hp,  laptop,  tv,  radio,  dll, memudahkan antunna untuk menuntut ilmu tanpa harus menempuh perjalanan jauh,  tanpa harus menghabiskan waktu perjalanan yang lama.

Maka manfaatkanlah setiap waktu luang Antunna, jangan sampai kekosongan waktu membuat kita lalai. Dan jangan sampai kelalaian kita hari ini membuat kita menyesal kelak di hadapan Rabbul 'aalamiin.

Semoga Allah menjaga keikhlasan hati, keistiqomahan,  dan ketetapan hati terhadap agama islam ini. Aamiin.

Wallahu A'lam Bis Shawab.

#Sebuah nasihat yang ditulis untuk diri kami pribadi,  dan untuk akhowat dan ummahat (grup pembelajaran durussullughoh) yang Kami cintai karena Allah Taala.

- Bintu Haris

"Yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam menuntut ilmu"



Dahulu para salaf menyadari bahwa tidak mungkin mereka mendapatkan ilmu kecuali oleh sebab kehendak Allah..
Begitu pula dengan rezeki,  tidak mungkin mendapatkannya kecuali oleh sebab kehendak Allah..
Begitu pula dengan ketenangan hidup,  tidak mungkin mendapatkannya kecuali oleh sebab kehendak Allah..

Pertanyaanya, mengapa kerap kali engkau masih sadarkan itu semua pada dirimu yang sama sekali tak bisa menghendaki apa-apa?

Dahulu para salaf bukan hanya sibuk menuntut ilmu,  namun mereka juga sibuk beribadah. Karena mereka tau,  bahwa yang mampu menjadikan ilmu tersebut ada pada mereka hanyalah Allah Taala,  Rabb mereka.

Tanpa kehedak,  taufik,  dan hidayah dari Allah,  ilmu yang diperjuangkan dengan keras,  harta yang dicari dengan kepayahan,  ketenangan yang diusahakan dengan kesusahan,  adalah 'ketiadaan'. 

Karena semua itu ada,  karena kehendak yang Allah berikan untuk kita.

Lalu,  apa yang harus diri ini lakukan?
Yang harus dilakukan adalah mengikuti hidupnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan para salaf (sahabat, tabiiin, atbaut taabiin).
Mereka hidup seimbang.

Bila di siang hari disibukkan oleh menuntut ilmu,  mencari rezeki,  bermuamalah dengan sesama,  maka manfaatkanlah waktu malam untuk bermunajat kepada Allah, khusus untuk memohon kepadaNya. 

Ingatlah firman Allah Ta'aala :

(وَجَعَلۡنَا ٱلَّیۡلَ لِبَاسࣰا ۝  وَجَعَلۡنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشࣰا)

"Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian. dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan."
[Surat An-Naba' 10 - 11]

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

" ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ"

"Tuhan kita Tabaaraka wa ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni."
(HR. Bukhari no.1145 dan Muslim no. 1808)

Sekarang, kita sering kali mencari waktu-waktu mustajab (diterimaNya) doa,  padahal Allah telah menyediakannya khusus setiap hari di sepertiga malam terakhirnya,  maka masikah engkau ragu untuk bersegera mendapatkan kehendak,  taufik, serta hidayahNya? 

Bangunlah disepertiga malam terakhir,  adukan dan mohonkan setiap keinginan yang belum tercapai. Karena sungguh,  Allah jadikan malam hari itu agar engkau keluhkan semua rasa dan harapan di siang hari, sehingga datang pagi harinya lagi dan kau sudah mendapati dirimu lebih berlapang dada.

Kini masalahnya bukan pada usaha yang tak kunjung membuahkan hasil, namun lontarkanlah pertanyaan ini pada dirimu sendiri :

 "Sudahkah engkau berdoa kepada Allah pada tiap sepertiga malam terakhir,  dengan meyakinkan diri bahwa  'yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam menuntut ilmu' , 'yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam mendakwahi saudaraku' , 'yang Aku sembah inilah yang menentukan rezeki yang ada pada keluargaku' ?"

Manusia itu patut merendah di depan Rabbnya, karena Rabbnya-lah yang menjadikan kehendak sesuatu pada diri manusia tersebut.

Wallahu Ta'aala A'lam Bis Shawab
#Sebuah nasehat untuk diri
- Bintu Haris




Sabtu, 25 Juli 2020

Dimana Engkau dari Perempuan-Perempuan Salehah?



#Sebuah Muhasabah Diri

Duhai murid-muridku, dimana engkau dari mereka yang sedang tersibukkan dengan pena dan kitab?

Dimana engkau dari mereka yang sedang tersibukkan dengan taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah dan menunaikan ajaran agama?

Dimana engkau dari mereka yang sedang tersibukkan dengan ibadah dan amalan yang diridai Rabbnya?

Dimana engkau dari mereka yang sedang memikirkan tentang kepantasan diri menghadap Rabbnya?

Dimana engkau dari mereka yang tiap malam memohon kepada Rabbnya agar diberikan naungan di hari kiamat kelak?

Dimana engkau dari mereka yang senantiasa memegang Al-Quran di tangannya?

Allah telah memberi kita kemudahan untuk beribadah, bermuamalah, dan mencari ilmu di zaman sekarang. Lalu dimana engkau dari kemudahan yang Allah berikan?

Engkauhkah yang senantiasa mensyukuri kemudahan itu? Atau justru yang menyia-nyiakan kemudahan itu?

Maka, muridku.. Inilah pertanyaan yang aku selalu tanyakan pada diriku setiap harinya, dimana aku dari perempuan-perempuan salehah ?

Tanyakan tiap malamnya pada diri kalian masing-masing, jujurlah, agar kesempatan yang masih ada sampai saat ini, senantiasa bisa engkau gunakan untuk terus memperbaiki kesalehahanmu.

Diterjemahkan dari nasehat Syaikha Zainab Musthofa Kaylaniy.
-Bintu Haris


Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu


Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu
(Mentadaburi Tafsir sebuah ayat pada
Surat Al Qasas ayat 25)


(فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ 

الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ)

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.”  (QS  Al-Qashas : 25)

Ayat yang mulia ini, menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat pemalu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.
Sebagaimana kesimpulan ini didapatkan dari perkataan para sahabat dalam menafsirkan ayat diatas :

1.  Amirul Mukminin Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 12)

2. Ibnu Abi Hatim berkata bahwa ‘Amir bin Maimun berkata, ‘Umar radhiyallahu 'anhu berkata: “Dia datang berjalan dengan malu-malu dengan menutupkan pakaian ke wajahnya, bukan wanita yang amat berani dan sering keluar rumah.” Isnadnya shahih. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:12)

Maka,  pada hakekatnya semua wanita  diciptakan oleh Allah taala dengan memiliki rasa malu dan hormat yang mulia. Lantas,  bagaimana agar kita bisa menjadi wanita yang memiliki rasa malu ditengah perkembangan zaman seperti ini?

Caranya adalah coba dalami pelajaran ilmu agama,  pelajari pelajaran akhlak dan adab bergaul dengan lawan jenis,  kurangi bergaul dengan para pria termasuk dalam hal chatting dan hubungan di dunia maya,  juga hindari dengan keras berdua-duaan (berkhalwat) di dunia nyata. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para shahabiyah dan wanita-wanita zaman dahulu, "Yang Cantik,  karena bermahkotakan rasa malu."

Ya Allah,  Karuniakanlah pada kami (para wanita muslimah) sifat malu yang dapat mengantarkan pada kebaikan .

Wallahu A'lam Bis Shawab.

02, Maret 2019
Ditulis oleh : Bintu Haris

“Kenapa Jangan Malas Menuntut Ilmu?”


“Kenapa Jangan Malas Menuntut Ilmu?”


Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke Syurga.” (HR. Muslim).

Ternyata menuntut ilmu adalah sebuah jalan menuju Syurga, karena dengan ilmu, seseorang akan memahami perkara agama ini dengan shahih (benar). Namun sayang, rasa malas kerap kali menimpa penuntut ilmu. Dengan mengatasnamakan lelah,  atau penat kemudian ia berhenti dan tanpa sadar malah menjauh dari jalan yang benar. Ingatlah perkataan Rasulullah bahwa : “Syurga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat (hawa nafsu)” (HR. Muslim). Maka, seorang penuntut ilmu haruslah menguatkan niatnya untuk tetap berada di jalan menuju Syurga jangan sampai dikalahkan oleh syahwat yang justru mengantarkannya ke dalam neraka –naudzubillahi min dzaalik-.

Salah satu solusi agar seorang penuntut ilmu bisa mengatasi rasa malas yang hadir di tengah perjalananya, adalah dengan mengetahui keutamaan menuntut ilmu, beberapa keutamaan menuntut ilmu yakni :

1.    Allah mengangkat derajat orang yang menuntut ilmu.
Allah berfirman, “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11) .

2.   Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu), sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang saleh.”

3.   Orang berilmu adalah orang yang takut kepada Allah.
Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir : 28)

4.   Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar.
Allah berfirman, “Allah menganugerahkan Al-Hikmah (pemahaman yang benar terhadap Al-Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. Al-Baqarah : 269)

5.    Ilmu adalah tanda kebaikan Allah kepada seseorang.
Dari Mu’awiyah, Nabi Muhammad bersabda, “Siapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan membuat dia paham tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6.   Diperbolehkan hasad kepada ahli ilmu.
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah beri harta dan ia menggunakannya dalam kebenaran serta orang yang diberi karunia ilmu (Al-Quran dan As-Sunnah) lalu ia amalkan dan mengerjakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

7.   Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu.
Dalam hadits dari Abu Ad-Darda’ رضي الله عنه disebutkan, Nabi Muhammad bersabda, “ Sungguh para malaikat membentangkan sayapnya karena sebagai tanda ridha terhadap penuntut ilmu.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

8.   Ahli ilmu lebih utama dibandingkan ahli ibadah.
Nabi bersabda, “Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah sepeti keutamaanku atas orang yang paling rendah dari kalian.” (HR. Tirmidzi)

Setelah memahami keutamaan penuntut ilmu, hal yang juga perlu dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah bekal, sehingga perjalanan meraihnya dapat dilalui dengan mudah dan benar. Imam As Syafi’I telah menyebutkan dalam syairnya :

 “Akhi, kalian tidak akan pernah mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara ini, akan aku kabarkan kepadamu secara terperinci yaitu dzakaa-un (kecerdasan), hirsun (semangat), ijtihaadun (cita-cita yang tinggi), bulghatun (bekal), mulazamatul ustadzi (duduk dalam majelis bersama ustadz), tuuluzzamani (waktu yang panjang).”

Imam As Syafi’iy pun menyebutkan dalam kitab Diwan beberapa bekal menuntut ilmu :

1.     Mengikhlaskan niat karena Allah. Karena setiap amalan yang kita lakukan diawali dengan niat, maka niat yang benar akan menghasilkan pahala. Serta ilmu yang dicari tanpa rasa ikhlas hanya mengharap wajah Allah, akan menimbulkan sikap sombong, riya, dan sum’ah bagi pelakunya.

2.    Menghindar dari perbuatan dosa dan maksiat. Suatu hari, Imam Syafi’I mengadu kepada gurunya Syaikh Waki’ tentang hafalannya yang lemah. Syaikh Waki’ pun memberikan nasihat agar imam Syafi’I meninggalkan maksiat; sebab ilmu itu cahaya; dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang suka bermaksiat.

3.    Menuntut ilmu sejak dini. Imam Syafi’I pernah berkata, “Siapa yang kehilangan waktu belajar pada waktu mudanya, maka takbirkan untuknya sebanyak empat kali; anggap saja ia sudah mati.

4.    Mencatat semua ilmu yang didapat dan didengar. Sebab, ilmu itu bagaikan binatang buruan, sedangkan menulis adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat agar ia tak lepas, begitu pula ilmu yang bisa hilang bila tak dicatat dalam sebuah buku.

5.     Bersabar atas bimbingan syaikh/guru. Sebab guru adalah sosok yang membimbing penuntut ilmu memahami pelajaran, dan melaluinya butuh rasa sabar.

6.     Mengatur waktu dengan baik. Pembaca yang dirahmati oleh Allah, ilmu itu sangat banyak  dan luas sampai disebutkan oleh sebagian ahli balaghah, bahwa “Ilmu itu bagaikan lautan” dan tidak ada makhluk di muka bumi ini yang mengetahui dan menguasai seluruh ilmu. Karena, itu seorang penuntut ilmu harus mengatur waktu belajarnya dengan baik, supaya banyak belajar dan mengetahui banyak ilmu.

7.     Menikmati ilmu yang dipelajari. Sebab dengan menikmati ilmu, seseorang akan bersemangat mencarinya.

8.    Bergaul dengan orang berilmu dan saleh. Sebab, berteman dengan mereka sangat bermanfaat dan bergaul dengan mereka akan membawa keuntungan.

9.    Merantau untuk mencari ilmu. Imam Syafi’I pernah berkata, “Merantaulah, karena engkau akan mendapat ganti yang lebih baik dari apa yang engkau tinggalkan.”

10.  Menghargai pendapat orang lain. Ketika seorang penuntut ilmu sedang berdiskusi dengan guru atau temannya maka hormatilah pandangan orang lain. Karena tentu engkau juga ingin pendapatmu dihargai, janganlah sombong atau keras kepala.

11.   Jangan pernah puas dengan ilmu. Imam Syafi’i  pernah berkata, “Setiap ilmuku bertambah. Maka bertambah pula pengetahuanku dan kebodohanku.” 

Setelah memahami dua poin diatas, salah satu hal yang juga tidak boleh terlupakan oleh penuntut ilmu adalah doa. Sebagaimana Allah berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad ) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186).

Ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan, untuk mendapatkannya bukan sekedar memerlukan niat dan usaha, namun doa dan permintaan untuk mendapatkannya juga harus selalu dipanjatkan. Salah satunya adalah doa yang kerap kali kita baca ketika dzikir pagi, “Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa. (Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima).”

Terakhir, teruntuk penulis pribadi dan pembaca yang dirahmati oleh Allah, semangatlah dalam menuntut ilmu dan buanglah rasa malas. Niatkan setiap langkah ikhlas hanya mengharap ridha Allah, belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh, amalkan setiap ilmu yang kau miliki di dalam kehidupan, serta berdoa kepada Allah agar selalu dikaruniakan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Terutama, ilmu yang dapat mengantarkan dan memudahkan jalan kita menuju Syurga-Nya.

Wallahu Taala A’lam Bis Shawab.

Ditulis oleh : Bintu Haris

Sumber Tulisan :
1.     Al Quran
2.     Hadis Bukhori dan Muslim dan Kutubus Sittah.
3.     Imam Badrudin Ibnu Jama’ah, (672 H) Tadzkirotus Sami’ Wal Mutakallim.
4.     Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin, (1434 H) Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi.
5.     Muhammad Yasir, (1441 H) Buku Berjalan Jauh Mencari Ilmu.


Maaf

 Bukan karena  engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai Hiduplah de...