Selasa, 18 Juni 2024

Maaf

 Bukan karena  engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk

Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai

Hiduplah dengan kehidupanmu saat ini, berbahagialah!

Doa terbaikku meyertaimu.

Stop menginginkan sesuatu tanpa memikirkan maslahat.

Karena perjalanan ini masing-masing.

Bukan tentang aku dan kamu saja


Berdamai Dengan Rasa

 Bismillah..

Jodoh itu adalah ketetapan Allah.
Seberapapun rasa yang kau menyimpan rasa pada seseorang yang pernah hadir dalam kehidupanmu, kalau dia bukan takdirmu maka tak akan menjadi takdirmu.

Pernah ada yang mengetuk pintu namun kemudian tak berjodoh untuk mengetuknya kedua kalinya.

Pernah ada yang mengirim pesan keinginan namun kemudian keinginan tak mesti berbentuk pengabulan yang berkesesuaian

Pernah ada  yang menyusup lewat ilmu namun kemudian waktu dan tempat tak persilakan untuk berlayar lebih jauh

Pernah pula ada yang datang dengan gagah namun tak membawa kabar indah karena menawarkanmu untuk menjadi pendamping cinta pertamanya

Beginilah hidup

Jangan pernah marah dan murka atas ketetapan Allah

Percayalah ia yang jodohmu pasti akan datang saat IA telah menghendaki

Ikhlaslah..

Selalu ingat bahwa tujuan hidupmu untuk beribadah dan selebihnya maka ambil secukupnya tanpa perlu menyakiti

Kini aku telah berdamai dengan rasa,

Pernah ada di posisi sedih, malu, ragu, kecewa, kesal namun itu semua tak ada gunanya

Bila bahagia bisa kau dapatkan saat ini, cukup bersyukurlah dengannya hari ini.

Adapun yang akan datang, semoga akan menjadi kabar yang lebih indah dan terang.

Rabu, 22 Mei 2024

قُلُوْبُنَا لَيْسَتْ أَكْوَابَ قَهْوَةٍ نُكْرِمُ بِهَا كُلَّ ضَيْف

 

Hati ini berhak memilih pada hal apa ia menjadi condong.

Hati ini berhak menentukan pada siapa ia menjadi condong.

Sungguh, bukan kewajibanmu untuk melayani semua hal dan semua orang yang membutuhkan kasih sayangmu.

Ada yang benar wajibnya untuk diberikan kasih sayang olehmu seperti Rabbmu, Para Rasul, Para Sahabat, Para Salafussaalih, ibumu, bapakmu, adik-adikmu, kerabatmu, teman-teman perempuanmu.

Namun terkadang ada pula yang terlarang untuk kamu berikan rasa sayang itu padanya.

Pada setiap insan yang singgah di hidupmu, menawarkan rasa tapi bukan dengan cara yang benar.

Walau hati kerap bergetar untuk memberikannya, karena pada nyatanya kamu juga menyayangi kebaikan pada dirinya.

Tapi,

Bila penawaran itu diambil kemudian kamu menyakiti banyak insan lainnya, bagaimana?

Kamu harus punya prinsip, menyayangi boleh selama tidak melanggar batasan syariat.

Menyayangi boleh selama kasih sayangmu tidak menimbulkan kesakitan pada orang lain.

Walau, hatimu yang harus menahan rasa, setidaknya bukan orang lain yang kehilangan rasa.

Manusia itu harus bijak dan adil layaknya Sang Pencipta.

Tak boleh egois dengan apa maunya.

Allah Maha Adil atas setiap kehidupan.

Bila saat ini ia yang kau sayangi sudah menemukan hatinya, suatu hari semoga giliranmu yang mendapatkan hati itu.

Selasa, 12 Maret 2024

Catatan Hari Pertama di Bulan Ramadhan

 

🌙Ramadhan adalah Madrasah🌙

Allah Taala berfirman, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS Al-Baqarah ayat 185)

Nabi Sallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan haji ke Baitullah.”

Dari bulan-bulan yang telah Allah tetapkan, ada sebuah bulan yang Allah sifati dengan bulan yang mulia. Karena di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, yang menjadi petunjuk bagi seluruh manusia. Di dalamnya juga ada sebuah malam yang dikatakan sebagai malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Sungguh indah dan nikmatnya bila kita dikehendaki untuk masuk ke dalam bulan ini.

Ia adalah Bulan Ramadhan, sebuah bulan yang bisa dijadikan sebuah madrasah, yakni tempat yang mendidik kita untuk mempelajari apa itu makna menahan hawa nafsu dan bersabar dalam ketaatan.

Kalau pada hari-hari biasa di bulan-bulan biasanya menahan hawa nafsu dan menjaga kesabaran adalah sesuatu yang cukup berat dilakukan, namun di bulan ini seberat apapun keduanya maka perasaan untuk melawannya harus dilampaui. 

Orang-orang yang lulus dari madrasah ini mudah-mudahan diharapkan bisa menjadi hamba-hamba terbaik setelah bulan ini. 

Wallahu A'lam Bisshawwab.

Sst.. Ceritanya sama Allah saja

Dari jutaan bahagia dan kesedihan, pasti kerap terasa ingin membaginya pada sesama.

Bahagia, agar mereka yang mendengar ikut bahagia akan nikmat yang kita dapatkan. Sebagaimana firman Allah, “Adapun kenikmatan maka bicarakanlah.”

Kesedihan, agar mereka yang mendengar ikut menyemangati kita agar memperluas rasa sabar. 

Padahal, banyak sudut pandang yang perlu kita pikirkan sebelum bercerita dan berbicara.

Tidak semua memberikan tanggapan yang kita harapkan, bahkan tak jarang tanggapannya berbuah dosa karena sebuah iri dan dengki.

Maka berceritanya sama Allah saja.

Wallahu A'lam Bisshawwab

Jumat, 08 Desember 2023

Mengapa Harus Beramal?

 

Setiap orang yang beriman, meyakini bahwa Agama Islam dibangun atas enam pondasi Rukun Iman. Di antaranya adalah:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Malaikat

3. Iman kepada Kitab-Kitab

4. Iman kepada Para Rasul

5. Iman kepada Hari Akhir

6. Iman kepada Takdir yang Baik dan yang Buruk

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 177:

﴿لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ﴾

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi.” 

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al-Qamar ayat 49:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir-takdir.” 

Maka orang yang beriman kepada takdir meyakni bahwa ketika Allah menciptakan alam semesta. Juga meyakini bahwa Allah mencatat siapa saja yang akan menjadi penghuni surga maupun penghuni neraka. Tidak akan ada perubahan sama sekali dalam catatan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui dirinya akan menjadi penghuni neraka atau penghuni surga. 

Lantas, mengapa harus beramal jika kita tahu akan menjadi penghuni neraka? 

Jawabannya adalah, karena kita tidak tahu akan menjadi penghuni neraka atau surga. 

Maka hendaklah setiap insan senantiasa beramal.

Rasulullah bersabda: "Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari)


Merenunglah, Sungguh kau tak perlu sakit hati dengan ucapannya:)

 Ada sosok perempuan yang begitu baik hati, selalu jujur perkataannya, selalu mendukung kebaikan nasehatnya.

Tapi diri ini sering sekali menjadi diam dan menangis karena nasehatnya. Bukan, sungguh bukan karena sakit hati.

Tapi lebih kepada, “sadar diri”. Bahwa tiap nasehatnya benar, dan setiap kelalaian diri adalah salah. 

Lebih kepada, “diam untuk merenung dan berpikir” setelah sekian lama, terlalu percaya diri akan kebaikan diri (innaalillahi).

Tapi manusia, akan tetap menjadi manusia. Punya rasa “gundah” sebelum rasa “menerima”. Punya rasa “sempit hati” sebelum “hati yang luas”.

Namun lagi-lagi sikap dan tanggapan membangun sebuah presepsi , bahwa diri ini membenci setiap ucapannya. Sungguh tidak pernah ada rasa benci itu. Karena hanya orang tak berakal yang marah karena “kebaikan yang diharapkan untuk dirinya”.

Tulisan ini untukku yang menulis. Agar aku tak lupa dan tak bersembunyi di dalam kata “terluka”. Karena sesungguhnya tidak ada luka apapun. 


Untukku dan untukmu pengajar,

[Sebuah Wasiat]

وصية عتبة بن أبي سفيان لمؤدب ولده:

Wasiat Utbah Bin Abi Sufyan kepada Pengajar Anaknya:

قال عتبة بن أبي سفيان لعبد الصمد مؤدب ولده:

Telah berkata Utbah Bin Abi Sufyan Kepada Abdusshomad (Pengajar anaknya):

ليكن أول ما تبدأ به من إصلاحك بَنِيَّ إصلاحك نفسك..

Langkah pertama yang hendaknya engkau lakukan dalam mendidik anakku adalah *perbaiki dulu diri (engkau)*..

فإن أعينهم معقودة بعينك،

Karena *semua mata mereka akan selalu tertuju kepada engkau*,

فالحسن عندهم ما استحسنت،

*Hal yang baik menurut mereka adalah yang engkau lakukan*,

والقبيح عندهم ما استقبحت.

 Dan *hal jelek menurut mereka adalah apa yang engkau tinggalkan*

علِّمْهم كتاب الله، 

Ajarkanlah mereka (anak didikmu) *Al-Quran*,

ولا تكرههم عليه فيَمَلُّوه، 

Tapi jangan paksa mereka (dengan berlebihan) sehingga menyebabkan *mereka bosan*,

ولا تتركهم منه فيهجروه.

Tapi jangan juga membiarkan mereka sehingga mereka *meninggalkan Al-Quran*.”


[Kitab Al-Bayan wa-Tibyan dan Kitab yang lainya] www.alukah.net/social/0/79548/#ixzz4YxbGY89D


Pelajaran yang bisa kita ambil dari perkataan ini:

  1. Kita adalah qudwah hasanah bagi anak didik kita.
  2. Anak didik kita melakukan apa-apa yang kita lakukan, karena mereka memandang apa yang kita lakukan adalah hal baik. Maka kita harus menghisab diri kita, apakah setiap perbuatan kita sudah baik hingga pantas untuk dicontoh oleh anak-anak?
  3. Anak didik kita meninggalkan apa-apa yang kita tinggalkan, karena mereka memandang apa yang kita tinggalkan adalah hal buruk. Maka kita harus menghisab diri kita, apakah setiap perbuatan buruk sudah kita tinggalkan sehingga anak-anak pun bergerak meninggalkannya?
  4. Jadilah pengajar Al-Quran yang membuat anak-anak membaca dan menghafal Al Quran dengan nikmat. Cari banyak metode untuk mengajarkan Al-Quran pada mereka agar tidak cepat bosan.
  5. Jadilah pengajar Al-Quran yang berprinsip, tidak bermudah-mudah dalam mengajarkan Al-Quran sehingga anak-anak menyepelekannya. 


Wallahu A’lam Bisshawwab

Selasa, 08 November 2022

Tanyakan, “Apakah hidupmu di dunia ini untuk Allah?”

Apa pencapaian terbesarmu dalam hidup ini?

Apakah lulus dari sekolah dengan peringkat pertama?

Apakah menikah dengan lelaki idaman nan sholeh?

Apakah dengan keliling dunia mengunjungi tiap tiap negara hebat?

Kalau ini semua tujuan dan pencapaian terbesarmu, maka ketahuilah..

Bahwa dunia tak begitu lama untuk dijadikan tempat menikmati ini semua..

Dunia adalah tempatnya seorang yang beriman diuji dan dicoba..

Akankah dengan kenikmatan yang dilimpahkan Allah kepadanya ia mampu bersyukur?

Akankah dengan kesengsaraan yang diberikan Allah kepadanya ia mampu bersabar?

Seandainya keimanan pada Allah sudah begitu kuat dipupuk,

Maka tak akan ada lagi kesombongan yang muncul kala kemasyhuran dan kekayaan itu didapati dalam diri.

Seandainya keimanan pada Allah sudah begitu kuat dipertahankan,

Maka tak akan ada lagi putus asa yang muncul kala musibah dan cobaan itu dirasakan dalam diri.

Wallahu A’lam Bisshawwab

-Hamba Fakir Allah

 

Kamis, 28 April 2022

A Letter For Me


Pesan dariku yang masih terus belajar,
Untuk diriku yang harus terus belajar…

Hasan Al Bashri mengatakan:
ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.” (Hilyatul Awliya’, 2: 148)

Umur adalah bagian dari kumpulan waktu-waktu..
Satu hari hidup di dunia berarti 24 jam sudah waktu yang engkau lalui.
Maka ketika tahun berganti tahun, engkau yang mulanya adalah anak berumur satu tahun menjadi sosok dewasa berumur dua puluh empat tahun.
Jika dikalkulasikan, maka kumpulan 24 tahun (yang telah berlalu) adalah 8.760 hari, dan kumpulan 8.760 hari adalah 210.240 jam.
Sungguh banyak waktu yang telah Allah limpahkan kepada dirimu.

Sesungguhnya, ia adalah nikmat sekaligus kerugian.
Kenikmatan bila engkau memanfaatkan waktu sebanyak itu dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah.
Kerugian bila engkau menyia nyiakannya dalam keburukan bahkan kemaksiatan kepada Allah.

Waktu terus berjalan, apa yang telah menjadi masa lalu tak pernah bisa diubah lagi garisnya, kecuali dengan memohon ampunan kepada Allah
Namun masih ada waktu waktu yang mungkin masih bisa dimanfaatkan sampai nanti ajal menjemput.
Memang tak ada yang tahu dan yakin bahwa umurmu akan berhenti di suatu angka. Karena itulah ilmu ghaib yang hanya Allah yang tahu. 
Tapi bercermin dari hari yang telah berlalu, maka kita patut berusaha di sisa umur yang ada.

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah berkata pada seseorang, “Berapa umurmu sampai saat ini?” “Enam puluh tahun”, jawabnya. Fudhail berkata, “Itu berarti setelah 60 tahun, engkau akan menghadap Rabbmu.” Pria itu berkata, “Inna lillah wa inna ilaihi rooji’un.” “Apa engkau tidak memahami maksud kalimat itu?”, tanya Fudhail. Lantas Fudhail berkata, “Maksud perkataanmu tadi adalah sesungguhnya kita adalah hamba yang akan kembali pada Allah. Siapa yang yakin dia adalah hamba Allah, maka ia pasti akan kembali pada-Nya. Jadi pada Allah-lah tempat terakhir kita kembali. Jika tahu kita akan kembali pada Allah, maka pasti kita akan ditanya. Kalau tahu kita akan ditanya, maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan tersebut.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 383)

Bertambahnya umur sama dengan bertambahnya tanggung jawab yang harus dijawab nanti di yaumil hisab, dan bertambahnya umur berarti berkurangnya waktu untuk menuai bekal menuju akhirat.

Semangat, usaha, dan doa harus tetap dibumi dan dilangitkan. 
Karena kelak semua yang ditanam hari ini akan dituai nanti. 
Dan baik buruknya tuaian itu, tergantung dengan seberapa baik amalan kita di dunia nan fana ini.

Wallahu A’lam Bis Shawwab
Bogor, 27 Ramadhan 1443 H/29 April 2022 M
@beakhoirperson

Maaf

 Bukan karena  engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai Hiduplah de...