Tampilkan postingan dengan label #Biografi #ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Biografi #ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Januari 2021

Biografi Syeikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin & Sekilas Tentang Kitab Al Qowaidul Mutsla Fi Shifaatillahi Wa Asmaaihil Husna

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Al Qowaidul Mutsla Fi Shifaatillahi Wa Asmaaihil Husna

Biografi Syeikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin & Sekilas Tentang Kitab

v  Nama pengarang kitab

Pengarang kitab ini, adalah seseorang yang tidak asing lagi di telinga para salafiyyin dan ahlussunnah, khususnya thalabul ilm. Beliau adalah Syeikh Muhammad ibn Sholih ibn Utsaimin Al Muqbil Al Wuhaibi At Tamiimi. Kunyah beliau adalah Abu Abdillah.

v  Tempat tanggal lahir

Syeikh Utsaimin dilahirkan di kota Unaizah, salah satu kota diantara kota-kota yang ada di Qosim. Beliau dilahirkan tahun 1347 H pada tanggal 27 Ramadhan, bertepatan dengan 29 Maret 1921 M.

v  Pertumbuhan beliau dan kondisi keluarga

·       Syeikh Utsaimin dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan istiqomahnya, dikenal dengan kebaikannya di dalam agama.

·       Beliau Rahimahullah, di awal mempelajari ilmu agama adalah belajar dengan sebagian keluarga Beliau.

·       Hali ini menunjukkan bahwa keluarga beliau adalah keluarga yang diliputi dengan ilmu agama, ketaatan, dan ibadah.

·       Beliau belajar dari sebagian keluarga beliau.  Seperti misalnya ia belajar dari kakeknya (dari arah ibu).

·       Kakek beliau (dari arah ibu)  adalah seorang ulama yang bernama Abdurrahman bin Sulayman AAlu Daamikh  -rahimahullah-

·       Beliau (Syeikh Utsaimin) membaca dan menyelesaikan hafalan al quran di tangan kakeknya.

·       Kemudian setelah itu beliau mulai menuntut ilmu, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mencukupkan diri dengan al qurannya.

·        Al Quran adalah dasar ilmu, sumber ilmu, dan ada baiknya seseorang mempelajari al quran sebagai dasar seluruh ilmu sebelum mempelajari ilmu lainnya.

·       Kemudian beliau mempelajari ilmu khot (kaligrafi) bagaimana cara menulis, dan mempelajari beberapa cabang ilmu adab yaitu keindahan bahasa.

v  Sosok beliau (Syeikh Utsaimin)

·       Beliau rahimahullah diberikan rezeki oleh Allah dengan kecerdasan dan juga kesucian hati.

·       Karena sebagian orang hanya diberikan oleh Allah kecerdasan namun tidak diberikan kesucian hati.

·       Hal ini seperti orang-orang Ahlu Kalam, mereka diberikan kecerdasan namun tidak dibrikan kesucian hati.

·       Sebagaimana perkataan ibnu taimiyyah terhadap orang-orang ahlu kalam :

" أنهم أوتوا فهوماً ولم يؤتوا علوماً, وأوتوا ذكاء ولم يؤتوا زكاء"

“Mereka diberikan kemampuan memahami akan tetapi tidak diberi ilmu, dan mereka diberi kecerdasan akan tetapi tidak diberi kesucian (hati).”

·       Dan beliau, Syeikh Utsaimin diberikan oleh Allah berupa kecerdasan dan kesucian hati.

·       Dan beliau juga diberikan oleh Allah Taala, tekad yang membara dan keinginan yang kuat dalam mendapatkan ilmu agama.

·       Sehingga beliau bersama dengan yang lain memenuhi majelis-majelis ulama  di zaman beliau.

·       Termasuk diantaranya adalah, diantara guru yang beliau pernah belajar darinya  Salah seorang guru beliau adalah Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’diy.

v  Guru Beliau (Syeikh Abdurrahman Bin Nashir As Sa’diy)

·       Adalah salah seorang mufassir  (ahli tafsir)

·       Diantara kitab tafsir karangan beliau yang terkenal adalah Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan (atau sekarang dikenal dengan nama Tafsir As Sa’diy)

·       Beliau adalah salah seorang guru Syeikh Utsaimin.

·       Syeikh Abdurrahman As- Sa’diy  juga seorang ahli fikih, beliau memiliki banyak perhatian yang besar tentang ilmu fikih. Sehingga hal ini memiliki pengaruh terhadap muridnya yaitu Syeikh Utsaimin.

·       Dahulu Syeikh Abdurrahman As Sa’diy mengangkat dua diantara murid-muridnya untuk mengajarkan ilmu kepada anak-anak kecil.

·       Dua orang tersebut adalah Syeikh Ali As Shalihi dan Syeikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Muthawa.

·       Sehingga  Syeikh Utsaimin yang saat itu masih kecil belajar dengan keduanya (Syeikh Ali As Shalihi dan Syeikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Muthawa).

v  Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu

·       Diantara kitab yang beliau baca dan pelajari di awal ia belajar agama adalah :

ü  Ilmu Akidah : “Mukhtasor Al Aqiidah Al Washitiyyah” yang ditulis oleh syeikh Abdurrahman as sadiy sendiri.

ü  Ilmu Fikih :  “Minhaajussalikin Fiil Fikih” ditulis oleh syeikh Abdurrahman As Sa’diy.

ü  Ilmu Bahasa Arab : “Al-Aajuruumiyah” dan kitab “Alfiyah ibni malik”

·       Rihlah menuntut ilmu

ü  Kemana saja beliau berpergian dalam menuntut ilmu? Beliau tidak seperti ulama yang lain, yang diberi kemudahan untuk pergi ke daerah-darerah dan negara-negara yang banyak, yang mampu rihlah ke berbagai negeri.

ü  Dikisahkan bahwa beliau hanya rihlah ke Riyadh saja, ketika dibuka di sana beberapa sekolah, akhirnya beliau mendaftar ke salah satu sekolah tersebut.

ü  Tapi inilah yang disebut dengan :

)ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ(

(Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar). Al-Jumuah ayat 4.

ü  Beliau belajaranya tidak seperti ulama yang lain, tidak rihlah (pergi) ke daerah daerah.

ü  Tapi dia punya kesungguhan, kemudian ia berdoa, dan dengan keikhlasan yang ia miliki akhirnya Allah mengangkat keilmuan beliau di atas yang lain.

ü  Beliau hanya belajar di Riyadh kepada ulama ulama yang ada disana, namun Allah angkat derajatnya sehingga bisa menjadi ulama sukses seperti ulama-ulama lainnya.

ü  Hikmah yang dapat dipetik :

§  Jangan sampai seseorang tertipu oleh syaithan, diberi kesempatan untuk pergi kesana kemari,  tapi ia lalaikan dan habislah waktunya untuk hal yang sia-sia,  dan ia tidak pernah memanfaatkan kesempatannya untuk belajar dengan para asatidzah yang ada di sekitarnya.

§  Terkadang ada orang yang mendapati keterbatasan dalam dirinya, namun dengan keterbatasan yang ada, ia mampu bersungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah Taala, sehingga Allah angkat derajatnya.

§  Allah lah yang mengangkat derajat sesorang, kalau ia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ia beradab dalam menuntut ilmu, maka Allah mudahkan ia untuk mendapatan ilmu walau hanya dengan memanfaatkan lingkungan sekitarnya.

§  Namun kalau dimudahkan nantinya diberikan untuk bertemu masyaikh alhamdulillah, namun kalau belum diberi kesempatan untuk bertemu masyaikh juga tidak mengapa, yang terpenting ia sudah menggunakan waktunya sebaik mungkin, memanfaatkan waktunya dengan apa yang ada di sekitarnya.

§  Jangan sampai seseorang terfitnah dengan berbagai macam fitnah, baik fitnah dunia, fitnah jabatan, dan fitnah lainnya.  

§  Jangan sampai seseorang disibukkan dengan perkara perkara duniawi sehingga ketika dia pulang ke Indonesia orang-orang tidak mengambil ilmu darinya.

§  Ia tenggelam begitu saja bersama orang orang yang tenggelam.

§  Dan hal ini berbeda dengan orang-orang yang menyibukkan waktunya untuk ilmu, maka ketika ia kembali ke negaranya, orang-orang akan mengambil manfaat dari ilmunya.

v  Syeikh Utsaimin ditunjuk menjadi imam masjid

·       Setelah meninggalnya Syeikh Abdurrahman As Sa’diy di Unaizah pada tahun 1376 H, saat itu umur beliau (Syeikh Abdurrahman As Sa’diy ) 69 tahun.

·       Maka sebagian masyayikh saat itu ditunjuk menjadi imam di masjid yang diberi nama  “Masjid Jami Al Kabir” di Unaizah.

·       Namun itu tidak berlangsung lama, sampai akhirnya ditunjuklah Syeikh Utsaimin untuk menjadi imam di masjid tersebut.

·       Dan akhirnya Syeikh Utsaimin menggantikan gurunya Syeikh Sa’diy mengajar di masjid tersebut.

·       Kemudian banyak yang belajar dengan beliau, termasuk asatidzah di Indonesia ada yang belajar langsung dengan Syeikh Utsaimin pada saat itu.

·       Syeikh Utsaimin mulai menulis kitab pada tahun 1382 H, pada saat itu umur beliau 32 tahun.

·       Kitab pertama yang beliau tulis adalah, ringkasan kitab syeikhul islam ibnu taimiyyah “Ar-Risalah Al-Hamawiyyah Fi al-’Aqidah” dan beliau beri nama kitab tersebut “Fath Rabb al-Bariyyah Bi Talkhish al-Hamawiyyah”

v  Syeikh Utsaimin di Riyadh

·       Ketika beliau berada di Riyadh, beliau belajar dari Syeikh Bin Baz (seorang mufti’ Saudi Arabiyyah).

·       Beliau membaca shahih bukhari dihadapan beliau (Syeikh Bin Baz ) dan beberapa kitab karangan syeikhul islam ibnu taimiyyah dan beberapa kitab fikih.

·       Pada saat itu gurunya yang lain, Syeikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syeikh (yang tengah menjabat menjadi mufti’ Saudi Arabiyyah) pada saat itu, menawarkan Syeikh Utsaimin untuk menjadi qadhi’ (hakim) namun syeikh utsaimin menolak dan sangat menolak dan berusaha untuk tidak menjadi seorang hakim, karena beliau ingin menyibukkan dirinya dengan ilmu saja. Akhirnya beliau dimaafkan untuk tidak menjadi hakim.

·       Dan ini yang dilakukan oleh beberapa ulama, yang menolak jabatan karena bisa jadi ia merasa bahwasannya bila menerima jabatan itu khawatir dirinya lemah maka mereka berusaha menjauhi jabatan-jabatan dan kedudukan-kedudukan tersebut.

·       Hal ini tidak diharamkan, karena masing-masing lebih mengethaui dirinya.

·       Ada diantara para ulama yang menjabat menjadi qadhiy (hakim), dan mereka juga tidak kalah luar biasa, mereka menulis, kemudian mengajar, kemudian juga menjadi seorang hakim. Seperti Al Hafidz Ibnu Hajar.

·       Dan ini fadhlullah yutiihi may yasyaa, dan masing-masing dari mereka (para ulama) memiliki kelebihan.

v  Guru-guru Syeikh Utsaimin lainnya

·       Syeikh Muhammad Al Amiin Asyinqithiy (pengarang kitab Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran), beliau adalah seorang ulama Madinah yang didatangkan ke Riyadh.

·       Guru di masa kecilnya : Syeikh Ali Bin Hamid As Shaalihi dan Seyikh Muhammad Bin Abdul Aziz Al Muthawwa. Dan dari keduanya kita bisa mengambil hikmah bahwa : Jangan malu untuk mengajar anak-anak kecil, karena mungkin saja di masa kecil ia hanya seorang anak kecil, namun beberapa tahun kemudian ia yang akan menjadi ulama besar dan ilmunya bermanfaat bagi banyak orang.

·       Guru Al Quran beliau : kakeknya Abdurrahman bin Sulayman AAlu Daamikh  -rahimahullah-

·       Syeikh Abdurrrahman Bin Ali Bin Audan

v  Murid-murid Syeikh Utsaimin

·       Murid-murid beliau terlalu banyak untuk disebutkan.

·        Disebutkan oleh muridnya : Yang menghadiri majelis beliau kurang lebih 500 orang. Yang menjadi murid dan duduk bersama beliau, dan masing-masing muridnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

v  Manhaj Syeikh Utsaimin

·       Diantara manhaj beliau di dalam mengajar : Syeikh Al Utsaimin Rahimahullahu Taala, memiliki ilmu yang mana beliau berjalan dan praktek di atasnya.

·       Perkataan beliau :

"لقد تأثرت كثيرًا بشيخي عبد الرحمن السعدي في طريقة التدريس، وعرض العلم، وتقريبه للطلبة بالأمثلة والمعاني"

 Artinya : “Aku banyak terkesan dan terpengaruh dengan guruku syeikh Abdurrahman As Sa’diy di dalam metode mengajar, dan menyampaikan ilmu, dan di dalam mendekatkan ilmu kepada murid-muridnya dengan memberikan contoh dan makna dalam mengajar. Demikian halnya aku terkesan kepada beliau dari sisi akhlaknya. Karena beliau mempunya akhlak yang mulia dan kedudukan yang tinggi dalam hal ilmu serta ibadah. Terkadang beliau bercanda dengan anak kecil dan tertawa bersama orang-orang dewasa. Beliau termasuk orang yang paling baik akhlaknya yang pernah aku lihat.”

·       Diantara hikmah : yakni pentingnya mulazzamah dengan seorang guru, karena dengan lamanya mujalasah (duduk dan menuntut ilmu) kita bersama guru, maka kita akan terpengaruh dan mengetahui bagaimana cara mengajar yang baik.

·       Seperti Syeikh Abdurrazaq juga memiliki perhatian yang besar kepada Syeikh Sa’diy , juga sangat terpengaruh dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al Jauziyah -semoga Allah merahmati keduanya-.

·       Manhaj yang digunakan oleh Syeikh  berbeda dengan ulama-ulama Saudi lainnya, karena mereka adalah ulama Najd yang madzhab mereka adalah Hanbaliy.

·       Dan Syeikh Sa’diy ini adalah yang termasuk keluar dari madzhabnya (madzhab hanbaliy).

·       Beliau berusaha kembali kepada dalil yang paling dekat dengan Al Quran dan As Sunnah.

·       Dan banyak mengambil pendapat-pendapat yang diambil oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al Jauziyah.

·       Dan Syeikh Utsaimin sangat terpengaruh degan apa yang dilakukan oleh Syeikh Sa’diy, sehingga kita temukan beliau kerap kali di dalam fatwa-fatwanya berbeda dengan ulama ulama madzhab hanbaliy lainnya.

v  Salah satu perkataan beliau

·       Kalau kita benar-benar ingin menuntut ilmu, maka memilih kitab yang ringkas, kemudian menghafalnya.

·       “Kami menghafal sedikit dan membaca banyak” dan faedah yang kami dapatkan dari bacaan kami lebih sedikit dibanding yang kami hafal.

v  Karangan beliau

·       Diantara karangan beliau, jumlahnya kurang lebih 55 kitab, beliau mensyarah qawaidul arba dan juga kitab tauhid, dan lain-lain.

·       Dan diantara keistimewaan karangan beliau adalah bahasan dan penjelasan yang digunakan sangat mudah dipahami.

v  Akhir hidup beliau

·       Beliau wafat pada tahun 1421 H bertepatan dengan tahun 2001 M.

·       Di bulan syawal tanggal 15.

·       Dan di tahun wafatnya, 10 hari di bulan Ramadhan beliau menyempatkan diri untuk i’tikaf di masjid nabawi dalam keadaan sakit

·       Dan pada saat itu beliau masih menyempatkan diri untuk mengajar.

·       Di bulan syawalnya beliau meninggal.

 

Tentang kitab Qawaidul Mutsla Fii Sifaatillah Wa Asmaaihil Husna

v  Al Mutsla : ism tafdhil adalah ta’nis dari amtsal. Artiny : Yang paling penting.

v  Artinya Qawaidul Mutsla Fii SIfaatillah Wa Asmaaihil Husna : Kaidah-kaidah yang paling penting di dalam sifat-sifat dan nama-nama Allah yang husna.

v  Isi kitab :

·       Didalam kitab ini beliau menyampaikan kaidah para salaf di dalam nama Allah dan sifat Allah.

·       Di dalam kitab ini kita belajar nama dan sifat Allah, namun pembahasan kitab ini  lebih tafshil (rinci) dari kitab yang telah kita pelajari sebelumnya.

·       Dan juga disebutkan oleh beliau di dalam kitab ini bagaimana membantah orang-orang yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.

·       Secara global beliau akan menyampaikan :

1.      Kaedah-kaedah yang berkaitan dengan nama Allah (7 Kaedah)

2.      Kaedah-kaedah yang berkaitan dengan sifat Allah (7 Kaedah)

3.      Kaedah dalam mengambil dalil-dalil mengenai sifat dan nama Allah (4 kaedah)

·       Dan ada beberapa ulama yang memberikan ta’liq dan mensyarh kitab ini, termasuk Syeikh Utsaimin sendiri juga mensyarh (menjelaskan) matan kitab ini.

·       Bahkan ada seorang Bahitsah (penulis resume perempuan atau semacamnya) yang menulis taliq tentang kitab ini, beliau adalah Kamilah Al Kawaaniy (atau DR. Kamilah Al Kiwari). Deliau mensyarah kitab qawaidul mutsla, beliau memberi judul “Al Mujalla Fii Syarh Al Qawaaidul Mutsla Fii……”

والله تعالى أعلم بالصّوّاب

Catatan Mulazzamah bersama Al Ustadz Abdullah Roy Hafidzhahullahu Ta’aala.

*Bila ada yang keliru bisa disampaikan melalui chat di kolom komentar. Baarakallahu fiikum.

Rabu, 07 Oktober 2020

Biografi : DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan Penulis Kitab Durusul Lughoh Al Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Karya DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan kitab “Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa”

Ditulis oleh : Nafila Imani Haris

Dikoreksi oleh : Ustadz Aris Saifuddin, Lc. Hafidzhahullahu Taala

 

A.    Tentang Buku :

·       Judul : Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa Jilid Pertama

·       Cetakan tahun : 1418 H

·       Daftar isi buku : Sampul depan, Basmalah, Isi (Pelajaran 1-23), Daftar isi.

·       Metode Pembelajaran :

o   Belajar tentang akhiran yang umum yaitu tanwin, kemudian setelahnya baru mempelajari mamnu’ minas sharf.

o   Belajar tentang isim mufrod sebelum belajar tentang isim dual dan jamak.

o   Belajar jamak saliim sebelum mempelajari jamak taksiir.

o   Belajar Fi’il Shahih Akhir sebelum mempelajari Fi’il Mu’tal akhir, lalu Af’alul Khamsah.

o   Belajar Mudhari Marfu’, sebelum mempelajari Mudhari Mansub dan Majzum.

 

B.    Tentang Penulis

·       Nama Penulis : Syeikh Doktor V(Vaniyambadi) Abdurrahim bin Abdussubhan.

·       Tempat Tanggal Lahir : Lahir di kota Vaniyambadi di wilayah Tamil Nadu India pada tanggal 7 Mei 1933 M (1356 H). Sebuah kota kecil namun merupakan kota penting yang menjadi pusat perdagangan.

·       Kegiatan Penulis : Pengajar Bahasa Arab bagi penutur asing di Universitas Islam Madinah, seorang pakar, leksikograf (mempelajari ilmu penyusunan kamus), linguis (ahli Bahasa) yang mahir. Beliau juga penanggung jawab dalam Mujama Malik Fahd (percetakan quran terbesar) dalam qism penerjemahan, dan telah menerjemahkan al quran ke dalam 71 Bahasa.

·       Sejarah Pendidikan :

o   Universitas Madras, Jurusan Bahasa Inggris, tahun 1957.

o   Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, Jurusan Studi Arabic, 1964, mendapat gelar M.Phil dan Ph.D.

·       Metode beliau dalam belajar dan mengajar :

o   Menghafal Wazn

o   Taqdiim Al-‘Ushuul ‘Ala Al-Furu’ (Belajar dari dasar sebelum meloncat ke pembelajaran yang lebih kompleks)

·       Beliau telah menulis 35 kitab, dan diantara karya beliau :

o   Durusul lughoh,

o   Kitab Al Mu’rob LilJawaliqi (judul desertasi S3 beliau),

o   Kitab Al’I’lam Bi Ushuulil A’lam,

o   Kitab Sawa As Sabil,

o   Kitab Mu’jamud Dakhiin,

o   Kitab Arbau Hadiisan,

o   Mu’jamul Masaaili Nahwiyah Wa Sharfiyah,

o   Nushus Islamiyyah,

o   Let’s Begin to Read Arabic : A Beginners Guide

o   At- Tibyan : Easy Way to Qur-aanic Reading

o   Dll.

·       Kemampuan Bahasa :

o   Menguasai 12 Bahasa (yang beliau sebutkan) karena besarnya minat beliau untuk mengajarkan Bahasa arab kepada orang-orang non arab.

o   Diantara Bahasa yang ia kuasai adalah :  Bahasa Urdhu (Bahasa ibu), Bahasa Inggris, Bahasa Arab (otodidak), Bahasa Persia (Bahasa di sekolah Chennai), Bahasa Turki (belajar agar bisa memahami muridnya), Bahasa Jerman (beliau diutus oleh Universitas Islam Madinah 10 tahun, untuk mengajarkan Bahasa arab. Pertama, beliau mengadakan dauroh  di kota Berlin dan sisanya beliau mengajar di kota-kota kecil di Lutherbach), Bahasa Ibrani, dan Bahasa Suryani (belajar dari buku dan internet) , Bahasa Yunani dan Bahasa Latin (beliau belajar di Universitas Chennai karena keduanya akar dari Bahasa inggris).

·       Perjalanan Pendidikan :

o   Pada awalnya beliau belajar bahasa arab secara otodidak, dan banyak sekali problematika yang dihadapi olehnya sebagai pembelajar Bahasa arab (non arab).

o   Mengawali perjalannya dalam mempelajari Bahasa arab beliau membaca buku Bahasa arab dengan terjemahan Bahasa Inggris dan Bahasa Urdhu.

o   Setelah itu, ketika beliau sudah mulai memahami Bahasa arab dasar,  beliau mulai mendengarkan radio berbahasa arab. Seperti radio cairo  (Soutul Arob), radio Al-Quranul Kariim (nidaaul islam dan Makkah al mukaramah) ini terjadi pada pertengahan tahun 69-70 Hijriyah / 1950 masehi. Setelah itu beliau pindah ke kota Madros (Chennai).

o   Kemudian disana beliau menghubungi beberapa kedutaan untuk mengirimkan kepadanya koran-koran dan majalah berbahasa arab, semua tujuannya untuk mengokohkan Bahasa arab beliau.

o   Beliau juga semangat menemui orang-orang arab yang datang, karena Chennai adalah kota besar dan terdapat banyak sekolah dan kampus maka banyak orang-orang arab yang datang kesana. Biasanya orang-orang ini adalah qori yang menjadi imam di bulan Ramadhan yang khusus didatangkan dari negeri arab.

o   Suatu hari ada daa’i datang dari Madinah dan beliau mengambil ini sebagai kesempatan untuk mengambil faedah darinya selama dua puluh empat jam.

o   Beliau juga pernah bertemu dengan seseorang berasal dari Bahrain, ia adalah seorang pengemis, kemudian beliau mengajaknya ke rumah untuk dijamu, dan setelahnya syeikh mengambil faedah Bahasa darinya. Syeikh selalu mengambil faedah bila bertemu dengan orang arab, dan ini adalah bentuk kecintaan beliau terhadap Bahasa arab.

o   Pada tahun 1964 M beliau pergi ke Mesir. Beliau pergi kesana karena keinginan yang kuat untuk bisa kuliah di timur tengah untuk mempelajari Bahasa arab. Ia bisa sampai setelah mengirim surat kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, pada bulan ied fitri dengan permintaan bahwa beliau ingin belajar di cairo mesir. Dua sampai tiga minggu kemudian, datang surat balasan dari wakil presiden, Hussen El-Shafei (yang pada saat itu adalah penanggungjawab di Al Azhar, tertulis bahwa “Anda diterima di Al Azhar sampaikan surat balasan ini ke kedubes Mesir di New Delhi”  Dan beliau pun berangkat pada bulan januari tahun 1964 M.

o   Di Mesir beliau tinggal di kota Nashiir Buhus lilislamiyah, kotanya para pelajar.

o   Beliau masuk ke dalam Fakultas Bahasa Arab di Universitas Al Azhar. Pada saat itu ijazah S2 syeikh dari Universitas Aligarh tidak diakui oleh Universitas Al Azhar, sehingga syeikh harus mengulang S2 kembali. Setelah melewati pembelajaran, akhirnya ia menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan tesis bertemakan “Kosa kata Bahasa perancis yang di-Arab-kan.”

·       Syeikh dan Madinah

o   Beliau tinggal di Madinah kurang lebih lima puluh tahun, sampai hari ini.

o   Beliau mengatakan, “Sebaik-baiknya hidup di dunia adalah hidup di Madinah Munawwaroh.

·       Syeikh tentang pembelajaran Bahasa arab

o   Beliau mengatakan, “sesungguhnya Bahasa arab adalah Bahasa yang mudah, namun orang-orang, para guru, metode, dan siswalah yang mempersulitnya. Mereka menyulitkan dengan metode yang mereka buat sendiri, dengan menjelaskan sesuatu yang rumit semenjak awal pembelajaran.”

·       Awal mula beliau menulis kitab durussulughoh

o   Beliau membuat silabus untuk pelajar di Universitas Madinah, setiap malam beliau mempersipakan dan menulis bahan ajar, semua beliau tulis dengan kesungguhan, dan aku bagikan kepada murid-muridku di Jamiiah pada pagi harinya.

o   Jilid pertama dari silabus ini selesai aku tulis dan ajarkan (selama 6 bulan), kemudian diterbitkan oleh jamiiah dan berikutnya terbit jilid kedua dan ketiga.

o   Beberapa bulan kemudian Jamiiah Islamiyyah Madinah (Universitas Madinah) mengadakan dauroh (seminar) di berbagai negara-negara di seluruh dunia, dan membagikan modul ini. Dan begitulah bagaimana buku ini tersebar.

o   Mulai dari saat itu silabus atau modul ini diperbanyak oleh beberapa orang, ada yang meminta izin dari beliau ada juga yang tidak.

o   Bahkan ada sebuah negara yang mencetak tanpa izin dan menghilangkan nama beliau.

·       Tambahan :

o   Salah satu kitab beliau yang terkenal juga adalah : “Europe Speaks Arabic” dimana syeikh menyebutkan kurang lebih 200 kosa kata Bahasa arab yang menjadi bagian Bahasa inggris dan perancis, dan  beliau juga menyampaikan hal ini dalam 10 bahasa yang berbeda. Buku Europe Speaks Arabic : mengandung Bahasa-bahasa eropa yang terkandung di dalamnya Bahasa arab. Contoh : Kata Trafalgar Square (kata-kata ini ada di jantung London). Artinya dalam Bahasa arab adalah : Pinggir gua (طرف الغار)

o   Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan beliau adalah :

1.     Senantiasa meminta dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat.

2.     Senantiasa memiliki ‘azm dan semangat yang kuat dalam berthalabul ‘ilmi.

3.     Meyakini bahwa siapa yang Allah kehendaki maka ia akan mendapatkan keutamaan pada kehidupannya.

4.     Tidak ada seorangpun yang tidak mampu untuk mempelajari sesuatu, karena Allah Maha Mendegar dan Mengetahui setiap doa, keinginan dan usaha hambanya.

5.     Istiqomah dalam menuntut ilmu.

6.     Sesungguhnya tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu, karena yang kelak akan dinilai oleh Allah bukan yang paling banyak amalanya, namun yang paling baik amalannya.

Wallahu Ta’aala A’lam Bis Shawab.

 

Sumber tulisan :

1.     Maktabah Syameela

2.     Video wawancara : https://youtu.be/5wUY8EKR6y8

3.     Artikel https://belajarbahasaarabdasar.blogspot.com/2018/11/biografi-dr-v-abdur-rahim-penulis-durusul-lughah.html?m=1

Maaf

 Bukan karena  engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai Hiduplah de...