Rabu, 13 Januari 2021

"Ia tenggelam bersama orang-orang yang tenggelam.."

Kenalkah kita dengan seseorang yang Allah berikan kesempatan berbeda dengan ulama lainnya?

Ia tidak banyak bersafar untuk menuntut ilmu,  sebagaimana ulama-ulama besar lainnya. Tapi Allah karuniakan kepadanya kecerdasan dan kesucian hati. Ia hanya belajar di daerah Qasim tanah kelahirannya,  serta menamatkan hafalan al quran di hadapan sang kakek. Kemudian berguru dengan ulama di kotanya, seperti Syeikh Abdurrahman bin Nashir as Sa'di dan murid-muridnya semenjak kecil. Memulai pendidikan dengan belajar akidah dan ilmu-ilmu lainnya hingga kemudian Ia tumbuh  menjadi ulama besar yang sampai hari ini walaupun telah tiada,  Allah berikan keberkahan besar pada dirinya dan juga ilmunya.  Kita bisa lihat berapa banyak  kitab-kitab yang beliau tinggalkan kemudian dibaca dan dijadikan rujukan di seluruh penjuru dunia. Belum lagi fatwa-fatwanya banyak diambil oleh para ulama dan thalabul 'ilm hari ini. Beliau seseorang yang memilih menjadi ulama saja tanpa menjabat sebagai hakim, karena khawatir menjadi lemah akan jabatan itu. 

Tahukah kita siapa beliau?
Beliau, adalah ulama umat ini,  guru dari para ulama-ulama hari ini. Sampai dikatakan,  bahwa muridnya terlalu banyak bila disebutkan satu persatu. Tapi coba kita tanyakan kepada ulama-ulama yang masih hidup sampai hari ini "siapa guru mereka?" Maka kebanyakan dari mereka akan menjawab salah satu guru mereka adalah beliau. 
Siapakah beliau?
Beliau adalah Syeikh Muhammad bin Shalih bin Muhammad Al Utsaimin -rahimahullahu ta'aala-. 
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik dari biografi kehidupannya. 
Dan salah satu hal yang menggugah hati ini adalah, ketika mengetahui bahwa beliau hanya menuntut ilmu dari "orang-orang di sekitarnya. Ya, memanfaatkan keterbatasan dan tetap bersemangat dalam menuntut ilmu."
Ia belum diberikan kesempatan seperti ulama besar lainnya untuk bersafar menuntut ilmu ke penjuru negeri, ia tidak diberi kesempatan safar ke Damaskus atau ke Baghdad atau ke kota-kota lainnya yang pada saat itu terdapat banyak ulama-ulama besar hidup di sana. Beliau hanya memanfaatkan guru-guru yang Allah berikan di sekitarnya. 

Dan Inilah yang seharusnya menjadi bahan introspeksi bagi kita.
Kita yang suka berkhayal,  "Ana ingin kuliah di kota A karena itu adalah kotanya para ulama." 
Atau "kalau ana gak masuk universitas B ana gak mau kuliah."  
Atau "ah, Ana gak mau masuk kuliah itu,  letaknya di Indonesia. Gak sebagus universitas-universitas timur tengah lainnya." 

Wahai diri,
Kalau seandainya engkau diberi kesempatan melanjutkan pendidikan ke tempat-tempat terbaik maka itu adalah nikmat yang patut disyukuri, Alhamdulillah Allah memberikanmu kesempatan yang luar biasa, jangan pernah kau sia-siakan. Karena engkau akan menemukan dirimu dekat dengan tempat tinggalnya para ulama.
Tapi apakah mereka yang belum mendapat kesempatan sepertimu termasuk dari orang-orang yang terbelakang? Apakah universitas atau halaqah-halaqah ustadz-ustadz kita di dalam negeri ini menjadikan mereka lebih sedikit mendapatkan ilmu?
Jawabannya adalah belum tentu. Lihatlah bagaimana syeikh utsaimin,  dengan keterbatasan yang ia miliki, tak membuatnya sedikit mendapatkan ilmu.  Justru sebaliknya,  dengan izin Allah dan fadhlillah beliau menjadi salah satu ulama yang kitab dan fatwanya banyak menjadi rujukan ulama-ulama hari ini. Maka sungguh yang dibutuhkan bukan hanya soal tempat yang bagus, namun yang lebih utama adalah kecerdasan dan kesucian hati yang perlu dipertebal.   Rabb kita telah berfirman bahwa :
(ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِیمِ)
"Demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang besar." [Surat Al-Jumu'ah 4]

Kalau kita ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maka mintalah itu semua kepada Allah. Karena yang kita butuhkan adalah fadlullah (karunia Allah), yang kita butuhkan adalah keridhaan Allah atas ilmu kita. Sehingga kelak ilmu itu bisa menjadi keberkahan bagi diri kita bahkan orang lain.
Syeikh utsaimin dengan segala keterbatasannya diceritakan bahwa beliau senantiasa berdoa kepada Allah,  belajar dengan tekun,  beradab terhadap ilmu,  dan mengikhlaskan niatnya hanya mengharap ridha Allah. Maka Allah angkat derajat beliau dan ilmu beliau di dunia ini. Lihatlah, bukankah ini adalah fadhlullah yang Allah berikan kepada siapa yang ia kehendaki ? 

Sayangnya, pada hari ini, betapa banyak kita mendapati penuntut ilmu-penuntut ilmu yang diberikan kesempatan safar (melakukan perjalanan jauh) demi memperoleh ilmu, justru mereka sia-siakan kesempatan berharga itu. Mereka justru sibuk dengan derajat di dunia,  mencari kekayaan, mencari kemasyhuran, terjerembab kepada kesenangan dunia hingga mereka lupa tujuan awal mereka adalah untuk "menuntut ilmu".
Sehingga ketika mereka kembali ke negerinya, "mereka tenggelam bersama orang-orang yang tenggelam". Tidak bisa membagi ilmunya dengan orang lain,  dan gelar yang ia miliki hanya sekedar sematan di akhir namanya. Tapi ilmunya,  tak bisa diwariskan kepada orang-orang yang sesungguhnya sudah menunggu kepulangannya. 

Inilah fenomenanya wahai penuntut ilmu..
Apa yang kita kerjakan di saat menuntut ilmu hari ini, kelak akan terlihat hasilnya di masa yang akan datang. 
Mereka yang senantiasa mendengarkan guru,  menghafal ilmu,  mengulang ilmu,  mengamalkan ilmu,  mengikhlaskan niat hanya mengharap ridha Allah maka akan terlahir dengan keberkahan ilmu pada dirinya. 
Tapi mereka yang lebih sering mengabaikan ilmu bahkan meremehkan guru,  malas menghafal,  abai dalam mengulang pelajaran,  abai dalam mengamalkan ilmu,  lebih senang hangout dengan teman-temannya di mall dibandingkan duduk di majelis ilmu,  kemudian tersibukan dengan hal duniawi lainnya,  maka sungguh mereka hanya akan sekedar tenggelam bersama mereka-mereka yang tenggelam. Beberapa tahun merantau dengan niat menuntut ilmu, justru sia-sia  karena dirinya sendiri yang menyia nyiakan. 

Maka ini peringatan untuk diriku,  dan untuk siapapun yang tengah berthalabul 'ilm. 
Apa yang kita tanam hari ini,  kelak akan menjadi buah yang akan kita petik kemudian.
Seandainya dari proses menanamnya saja sudah "kurang niat" atau "malas-malasan",  yakinkah kita bahwa ia akan tumbuh menjadi buah-buah yang berkualitas?
Apa jadinya bila kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang baik disia-siakan begitu saja?
Apa jadinya bila kesempatan untuk menuntut ilmu di negeri sebrang di sia-siakan begitu saja?
Sudah mengeluarkan harta yang banyak, waktu yang banyak, kemudian harus merantau jauh dari orangtua dan keluarga. Lalu ketika kembali  justru ia dan ilmunya tenggelam bersama orang-orang yang tenggelam.
Sungguh relakah kita tenggelam bersama mereka yang tenggalam?
Naudzubillah min dzaalik.

Kita memohon kepada Allah agar senantiasa menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang ia kehendaki mendapatkan keberkahan pada ilmu dan juga amalan kita. 

Wallahu A'lam Bis Shawwab.
29 Oktober 2020
Sebuah hikmah yang di tulis dari muqoddimah mulaazamah kitab al qawaidul mutsla fii Asmaaillahi wa sifaatillahil 'ulyaa li Syeikh Utsaimin hafidzhahullahu ta'aala bersama Al Ustadz Abdullah Roy hafidzhahullahu Ta'aala.

Selasa, 12 Januari 2021

"اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لأخرتك كأنك تموت غدا"



"Kerjakanlah amalanmu di dunia seakan-akan kamu akan tinggal selamanya,  dan kerjakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu akan kembali (ke sisi Allah Taala) esok."

Camkan bahwa mungkin malaikat maut sedang menunggu waktu mencabut nyawamu.
Camkan bahwa mungkin sholatmu hari ini bisa jadi menjadi sholat terakhirmu.
Camkan bahwa mungkin perjumpaanmu dengan orang yang kamu sayangi  bisa menjadi pertemuan terakhir.
Lalu,  sudah seberapa banyak bekal akhiratmu?

Kalau kita merasa bahwa hidup di dunia ini selama-lamanya maka segala list mimpi (keduniaan) akan kita abaikan sementara, "toh bakal hidup selama-lamanya."
Setidaknya "amalan akhirat" yang  kerap kali kita abaikan, akan sebaliknya yakni kita lakukan setaat dan sesempurna mungkin,  karena ini akan menjadi titik akhir perjuangan mengumpulkan bekal akhirat. 

Sayangnya kita sering lupa,  dan harus selalu diingatkan.
Kita sibuk wara wiri di dunia,  meraih penghargaan ini,  meraih gelar itu,  mengerjakan tugas organisasi ini,  dan lain-lain. Sehingga hal tersebut membuat kita lupa,  bahwa ada "Bekal akhirat" yang menunggu untuk dipenuhi dan disiapkan.

Bukankah kita tau bahwa untuk melakukan perjalanan panjang  butuh banyak bekal?
Dunia ini adalah setengah dari awal perjalanan kita,  kalau di dunia kita sudah abai dari "mencari bekal akhirat" besok ketika sampai di destinasi berikutnya, yaitu "alam kubur" apa yang mau dipertaruhkan ?
Mau bagaimana cara kita bertahan?

Belum lagi destinasi setelah itu masih banyak,  ada hari kiamat,  hari  kebangkitan,  hari berkumpul di padang mahsyar,  hari perhitungan,  hari penimbangan, jembatan shiratul mustaqim. Sebanyak apa bekal yang sudah kamu siapkan untuk melalui itu semua,  sampai terhadap sholat lima waktumu saja masih sering terabaikan? sampai untuk bersedekah saja berpikir panjang (karena takut kehabisan uang) ?

Mungkin kalimat di atas perlu kita tegaskan pada masing-masing diri,  kalau perlu kita tulis besar-besar di kamar.
"Esok bisa jadi malaikat mencabut nyawamu!"
 Agar ketika dunia ini tengah mengalihkan pikiranmu akan akhirat,  kita segera ingat bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara. Ibarat perjalanan menuju Surabaya dari Jakarta,  maka kita baru sampai di rest area pertama, dan  perjalanan  masih amat jauh. 

Maka perbekalan pun harus diisi sebanyak mungkin, agar selamat sampai tujuan terindah,  yakni Syurganya Allah.
Teruntuk diri,  yuk perbaiki kekhusyukan shalat !
Teruntuk diri,  yuk perbaiki keikhlasan bershadaqah !
Teruntuk diri,  yuk perbaiki akhlak,  jauhi rasa egois dan amarah tinggi!
Teruntuk diri,  yuk perbanyak doa dan dzikir kepadaNya !
Teruntuk diri,  stop dulu yuk mengurusi urusan dunia yang tak ada ujungnya,  dan mulai berbenah diri akan persiapan menuju akhirat.

Karena kenyataannya dunia ini hanya sementara.
Buat apa kita mencari banyak kenikmatan dunia sampai-sampai menimbunnya,  kalau pada akhirnya yang kita butuhkan hanya satu,  yakni amalan baik.

Imam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- pernah mengatakan : "Tidaklah ia dapat melihat kenikmatan akhirat kecuali ia telah melihat kenikmatan dunia terlebih dahulu."

Benar,  kita boleh menikmati dunia ini,  tapi secukupnya. Karena terkadang kalau dunia ini tidak dibatasi,  khawatir diri kita melampaui batas dan jatuh terlena.
Hakekat nikmat yang harus kita rasakan adalah kala harta, pekerjaan,  dan kedudukan dunia menjadikan wasilah dalam mengumpulkan bekal akhirat.

Kedudukan, harta, pekerjaan tak ada satupun yang dapat berguna di akhirat kelak..
Kecuali hal tersebut yang telah berbentuk dalam amalan baik (contoh : selama di dunia ia gunakan hartanya untuk bersedekah,  selama bekerja di dunia ia tepati amanah pekerjannya tidak keluar di waktu jam kerja,  kedudukannya ia gunakan seadil mungkin bukan untuk berbuat curang)

Teman dan orang-orang yang sangat menyayangi kitapun esok sibuk mengurusi pertanggung jawabannya masing-masing.

Lalu apa yang kau agung-agungkan dari dunia yang hanya sebagai persinggahan mencari bekal akhirat semata?
Wallahu A'lam.

#Muhasabah diri
1, Maret 2020
@beakhoirperson
-Bintu Haris.

Selasa, 17 November 2020

"Mengapa Aku Harus Cerdas?"


Saudariku tahukah engkau dengan kisah empat saudara yang wafat di medan peperangan?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah Amiirul Mukminin Fiil Hadits, Sufyan Ats Tsaury?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah salah satu Aimmah Fii Madzaahibil Arbaah,  Imam Syafiiy?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah salah satu Aimmah Fii Madzaahibil Arbaah, Imam Ahmad Bin Hanbal?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah Imam Muhadditsin terbaik umat ini,  Imam Bukhori?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah salah satu Imam Mujaddid terbaik abad ini,  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah salah seorang ulama dan qadhiy terbaik umat ini Imam Ibnu Hajar Al Asqalani ?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah penguasa Andalusia,  Abdurrahman bin An Nashir ?
Saudariku tahukah engkau dengan kisah penakluk konstatinopel,  Muhammad Al Fatih ?

Mereka adalah sebagian dari ulama, imam,  dan pemimpin umat ini.
Kesuksesan mereka sudah termaktub dalam catatan sejarah.
Ketauladanan serta warisan ilmu yang mereka tinggalkan adalah bukti nyata bahwa mereka layak untuk dijadikan tauladan setelah tauladan utama umat ini Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum. 

Pertanyaannya, tahukah kalian siapa sosok di balik orang-orang hebat ini?
Ia adalah sosok hebat bernama ibu.
Sebagian mereka tumbuh dalam keadaan yatim,  sehingga ibu-ibu merekalah yang berjuang untuk mengawal pertumbuhan mereka. 
Perjuangan ibu mereka bukan hanya soal pendidikan,  tapi juga dalam menanamkan akhlak serta kecintaan pada Allah yang akhirnya menjadikan mereka luar biasa. 

Benar perkataan yang mengatakan bahwa "ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya." 
Maka sungguh, seluruh wanita di dunia ini harus mengingat sepenggal kata ini dengan baik.
Wanita adalah calon ibu,  dan ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya.
Generasi masa depan adalah menjadi tanggung jawab para calon ibu hari ini.
Maka wahai saudariku muslimah..
Bergegaslah untuk mencerdaskan dirimu,  sebelum kelak kau akan mengemban amanah untuk mencerdaskan anak-anakmu.

Wallahu A'lam Bis Shawwab
Baca selengkapnya kisah "ibunda para ulama" di www.kisahmuslim.com

"Dari Hati Untuk Hati"


Teruntuk hati,  melembutlah sejenak dan renungi tiap baris pertanyaannya.

Kalau engkau kembali ke beberapa tahun silam,   siapa orang yang paling bahagia mendengar kelahiranmu?

Kalau memorimu dibawa ke ruang masa kecil, maka hal pertama apa yang mampu kau lakukan setelah Allah menggiringmu ke fase balita dari seorang bayi merah?

Kalau memorimu dibawa ke ruang masa kanak-kanak, maka kenangan manis apa yang sampai hari ini masih membuat dirimu tersenyum?

Kalau memorimu dibawa ke ruang masa remaja,  maka sudah seberapa jauh pengetahuanmu kala itu?

Kalau memorimu dibawa ke ruang masa dewasa,  maka sudah berapa banyak pengorbanan yang telah kau lalui untuk dirimu dan orang lain?

Semua pertanyaan ini,  bukan untuk menilai seberapa hebat dirimu hari ini. Atau bukan pula untuk menilai seberapa berhasilnya dirimu hari ini. 

Melainkan pertanyaan-pertanyaannya agar engkau setidaknya bisa menyadari dan mensyukuri.

Menyadari sudah banyak sekali waktu yang Allah titipkan untuk dirimu,  serta mensyukuri seberapa banyak nikmat yang telah Allah titipkan kepadamu.

Wahai hati, sebagaimana dikatakan bahwa iman saja naik dan turun. Maka tentulah ketaqwaan kita dalam berjalan di atas muka bumi ini juga butuh proses yang bergelombang untuk melaluinya.

Sekarang biarkanlah sepenggal kisah masa lalu menjadi pelajaran untuk sisa perjalanan kita di dunia yang singkat ini. Karena masih ada masa kini yang harus dipertanggungjawabkan. Atau bahkan masa depan yang masih perlu diperjuangkan. 

Maka,  lewatilah tiap fasenya dengan jejak terbaik. Sebagaimana semua orang menyambut kelahiranmu dengan bahagia,  maukah engkau berjuang agar orang-orang kelak mengantarkanmu ke persinggahan terakhir dengan bahagia pula?

Ruang waktu,  nikmat kehidupan, dan jendela kematian. Semua itu akan dilalui oleh setiap insan, dan berbahagialah untuk setiap langkah yang akan kau pilih. Jangan lengah dan salah langkah. Agar Jannah kelak menjadi tempat persinggahan kekalmu.

Ya Allah, Kami momohon keteguhan hati untuk tetap berada di jalan lurusMu.

"Lurus saja, tak perlu memikirkan yang belum terjadi."

"Lurus saja,  jangan memikirkan yang belum terjadi."
Sebuah nasehat dari Syeikha Aisyah Ali Murshid hafidzhahullahu ta'aala.

Bunayyatiy, Di hadapanmu kini ada ibadah yang menunggu untuk dikerjakan.
Sholat, maka ia yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) oleh Allah Taala. Kemudian,  puasa,  zakat,   haji,  dll.
Berjalanlah lurus ke depan,  ibaratnya kamu sedang berada di sebuah jalan.. Maka kamu tak perlu belok ke kanan atau belok ke kiri.

Ambil setiap pahala di jalan tersebut.
Ibadah yang wajib pastinya (sholat lima waktu,  puasa ramadhan,  zakat fitrah,  berhaji -bila mampu-).
Kemudian ibadah yang sunnah (shalat sunnah rawatib,  sunnah witir,  sunnah qiyamul lail,  sunnah dhuha, puasa senin-kamis,  puasa ayamul bidh, puasa daud,  sedekah, mengerjakan ibadah umrah, dll.)

Janganlah kamu memikirkan hal-hal lain, seperti..
"Kapan jadi orang suksesnya ya?"
"Kapan bisa kerja dan punya uang sendiri ya?"
"Kapan nikah ya?"
"Kapan dikaruniai anak ya?"
"Kapan travelling keliling dunia ya?"
"Kapan bisa ambil S2? kapan bisa ambil S3?"
dan masih banyak angan-angan lainnya.
Yang justru tanpa engkau sadari menghambat jalan lurus kita menuju tujuan akhir.

Apa sih tujuan kita hidup di dunia ini?
Bukankah Allah telah berkata :
 (وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ)
"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manuasia kecuali untuk beribadah kepadaku" [Surat Adz-Dzariyat 56]

Tujuan kita di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah.
Sekarang mari kita pikirkan,
Sudah seberapa benar ibadah yang kita lakukan?
Apa sudah yakin kalau ibadah wajib yang telah kita lakukan diterima semua?
Apa sudah mengerjakan ibadah sunnah untuk menyempurnakan ibadah-ibadah wajib yang masih kurang sempurna?
Kita tidak bisa merasa bangga terhadap ibadah  yang telah kita lakukan  sehingga merasa cukup dan malah sibuk mengejar angan-angan yang tiada habisnya.

Dunia,  tidak akan dibawa ke dalam kubur bunayyatiy.
Harta pun bisa dicuri atau bisa habis.
Kepintaran pun,  bisa berkurang atau bisa terlupakan.
Dan menjawab soal dalam kubur tidak bisa dengan harta yang banyak ataupun ingatan yang kuat.
Semua itu tergantung dengan keimanan yang kita yakini di dalam hati,  terucap di dalam lisan, dan diamalkan dengan anggota badan.

Maka,  bunayyatiy.
Sibukkanlah dirimu dengan beribadah kepada Allah.
Bukankah janji Allah itu nyata, bahwa barangsiapa yang mengejar akhirat maka dunia akan mendatanginya dalam keadaan terhina ?
Sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam,  "Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad) 

Dunia yang akan mendatangi kita dalam keadaan terhina!
Tidak perlu, kita yang habis-habisan mengejar harta,
Karena harta sendiri yang kelak menghampiri kita.
Hiduplah untuk ibadah,  berusahalah di dunia untuk tujuan ibadah kepadaNya,  dedikasikan semua untuk kebahagiaan akhirat, maka Allah yang akan menepati janjinya untuk menghidupimu di dunia yang sangat sebentar ini.
Pikirkan kehidupan di Syurga kelak!
Yang kekal abadi selamanya.
Yuk kita perbagus dan perbaiki ibadah :))

#Wallahu A'lam
#Catatan Nasehat 2018 diterjemahkan dari bahasa arab.

Rabu, 07 Oktober 2020

Nubdzatul Fawaaidi : Siapakah Al Firqoh An Najiyah ?

 

بسم الله الرحمن الرحيم

SIAPAKAH GOLONGAN YANG SELAMAT?

(Faedah dari kitab "Al Firqoh An Naajiyah" karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

1. Golongan yang selamat adalah yang mengikuti prinsipnya Rasulullah salallahu alaihi wa sallam,  Sahabat,  Tabiin,  dan Atbaaut Taabiin Radhiyallahu Anhum.

2. Mereka adalah golongan yang  kembali kepada Al Quran dan As Sunnah bila menemui perbedaan pendapat.

3. Mereka adalah golongan yang mendahulukan Al Quran dan As Sunnah (Hadis) sebelum perkataan-perkataan lainnya.

4. Mereka yang fokus kepada  tauhid  dan menjauhi kesyirikan (yang merupakan konsekuensi dari tauhid). Karena itulah yang utama sebelum hal lainnya. Sebagaimana dahulu Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mendakwahkan tauhid dan memberantas kesyirikan terlebih dahulu sebelum mendakwahkan umat kepada hal lainnya.

5. Mereka yang suka menghidupkan sunnah-sunnah Rasulnya sallallahu alaihi wa sallam,  dalam setiap aspeknya, sehingga mereka terlihat asing di tengah-tengah kaumnya, juga terlihat berbeda dengan masyarakatnya.

6. Mereka yang tidak fanatik terhadap suatu golongan/madzhab/ulama/ustadz karena manusia itu tidak  ada yang maksum (murni dari dosa). Sesungguhnya orang-orang salaf sejati adalah mereka yang kembali kepada Al Quran dan As Sunnah bukan fanatik terhadap suatu golongan/madzhab/ulama/ustadz .

7. Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan prinsip sesuai Ahlul Hadis (setiap ulama yang kembali kepada perkataan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam yang shahih).

 8. Mereka yang tetap menghormati ulama walau mendapati perbedaan pendapat,   dan tidak taashub (fanatik) terhadap salah satu diantara mereka. Mereka kembali kepada perkataan ulama yang paling sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah,  yang paling shahih dalilnya.

9. Mereka yang amal ma'ruf dan nahi munkar serta meninggalkan perkara bid'ah dan hizbiyyah.

10. Mereka yang mengiginkan kebaikan pada dirinya dan muslim lainnya. Ia suka menasehati dan dinasehati,  saling berbuat kebaikan dan diajak kepada kebaikan, dan lain-lain.

11. Mereka adalah yang fokus kepada hukum-hukum Allah, yakni ayat Al Quran dan As Sunnah serta menjadikan keduanya pegangan. Kemudian meninggalkan hukum wad'iy (hukum yang dibuat manusia, seperti undang-undang manusia, dll) yang menyelisihi hukum islam. Adapun bila selaras dengan hukum islam maka tidak mengapa, namun dengan tetap meyakini bahwa hukum Allah-lah yang terbaik dan utama. 

12. Mereka yang mengajak kepada seluruh orang muslim agar berjihad di jalan Allah (Jihad ada tiga : Jihad dengan lisan/pena,  jihad dengan harta,  jihad dengan jiwa).

 والله أعلم بالصواب

Biografi : DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan Penulis Kitab Durusul Lughoh Al Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa

 

بسم الله الرحمن الرحيم

Karya DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan kitab “Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa”

Ditulis oleh : Nafila Imani Haris

Dikoreksi oleh : Ustadz Aris Saifuddin, Lc. Hafidzhahullahu Taala

 

A.    Tentang Buku :

·       Judul : Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa Jilid Pertama

·       Cetakan tahun : 1418 H

·       Daftar isi buku : Sampul depan, Basmalah, Isi (Pelajaran 1-23), Daftar isi.

·       Metode Pembelajaran :

o   Belajar tentang akhiran yang umum yaitu tanwin, kemudian setelahnya baru mempelajari mamnu’ minas sharf.

o   Belajar tentang isim mufrod sebelum belajar tentang isim dual dan jamak.

o   Belajar jamak saliim sebelum mempelajari jamak taksiir.

o   Belajar Fi’il Shahih Akhir sebelum mempelajari Fi’il Mu’tal akhir, lalu Af’alul Khamsah.

o   Belajar Mudhari Marfu’, sebelum mempelajari Mudhari Mansub dan Majzum.

 

B.    Tentang Penulis

·       Nama Penulis : Syeikh Doktor V(Vaniyambadi) Abdurrahim bin Abdussubhan.

·       Tempat Tanggal Lahir : Lahir di kota Vaniyambadi di wilayah Tamil Nadu India pada tanggal 7 Mei 1933 M (1356 H). Sebuah kota kecil namun merupakan kota penting yang menjadi pusat perdagangan.

·       Kegiatan Penulis : Pengajar Bahasa Arab bagi penutur asing di Universitas Islam Madinah, seorang pakar, leksikograf (mempelajari ilmu penyusunan kamus), linguis (ahli Bahasa) yang mahir. Beliau juga penanggung jawab dalam Mujama Malik Fahd (percetakan quran terbesar) dalam qism penerjemahan, dan telah menerjemahkan al quran ke dalam 71 Bahasa.

·       Sejarah Pendidikan :

o   Universitas Madras, Jurusan Bahasa Inggris, tahun 1957.

o   Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, Jurusan Studi Arabic, 1964, mendapat gelar M.Phil dan Ph.D.

·       Metode beliau dalam belajar dan mengajar :

o   Menghafal Wazn

o   Taqdiim Al-‘Ushuul ‘Ala Al-Furu’ (Belajar dari dasar sebelum meloncat ke pembelajaran yang lebih kompleks)

·       Beliau telah menulis 35 kitab, dan diantara karya beliau :

o   Durusul lughoh,

o   Kitab Al Mu’rob LilJawaliqi (judul desertasi S3 beliau),

o   Kitab Al’I’lam Bi Ushuulil A’lam,

o   Kitab Sawa As Sabil,

o   Kitab Mu’jamud Dakhiin,

o   Kitab Arbau Hadiisan,

o   Mu’jamul Masaaili Nahwiyah Wa Sharfiyah,

o   Nushus Islamiyyah,

o   Let’s Begin to Read Arabic : A Beginners Guide

o   At- Tibyan : Easy Way to Qur-aanic Reading

o   Dll.

·       Kemampuan Bahasa :

o   Menguasai 12 Bahasa (yang beliau sebutkan) karena besarnya minat beliau untuk mengajarkan Bahasa arab kepada orang-orang non arab.

o   Diantara Bahasa yang ia kuasai adalah :  Bahasa Urdhu (Bahasa ibu), Bahasa Inggris, Bahasa Arab (otodidak), Bahasa Persia (Bahasa di sekolah Chennai), Bahasa Turki (belajar agar bisa memahami muridnya), Bahasa Jerman (beliau diutus oleh Universitas Islam Madinah 10 tahun, untuk mengajarkan Bahasa arab. Pertama, beliau mengadakan dauroh  di kota Berlin dan sisanya beliau mengajar di kota-kota kecil di Lutherbach), Bahasa Ibrani, dan Bahasa Suryani (belajar dari buku dan internet) , Bahasa Yunani dan Bahasa Latin (beliau belajar di Universitas Chennai karena keduanya akar dari Bahasa inggris).

·       Perjalanan Pendidikan :

o   Pada awalnya beliau belajar bahasa arab secara otodidak, dan banyak sekali problematika yang dihadapi olehnya sebagai pembelajar Bahasa arab (non arab).

o   Mengawali perjalannya dalam mempelajari Bahasa arab beliau membaca buku Bahasa arab dengan terjemahan Bahasa Inggris dan Bahasa Urdhu.

o   Setelah itu, ketika beliau sudah mulai memahami Bahasa arab dasar,  beliau mulai mendengarkan radio berbahasa arab. Seperti radio cairo  (Soutul Arob), radio Al-Quranul Kariim (nidaaul islam dan Makkah al mukaramah) ini terjadi pada pertengahan tahun 69-70 Hijriyah / 1950 masehi. Setelah itu beliau pindah ke kota Madros (Chennai).

o   Kemudian disana beliau menghubungi beberapa kedutaan untuk mengirimkan kepadanya koran-koran dan majalah berbahasa arab, semua tujuannya untuk mengokohkan Bahasa arab beliau.

o   Beliau juga semangat menemui orang-orang arab yang datang, karena Chennai adalah kota besar dan terdapat banyak sekolah dan kampus maka banyak orang-orang arab yang datang kesana. Biasanya orang-orang ini adalah qori yang menjadi imam di bulan Ramadhan yang khusus didatangkan dari negeri arab.

o   Suatu hari ada daa’i datang dari Madinah dan beliau mengambil ini sebagai kesempatan untuk mengambil faedah darinya selama dua puluh empat jam.

o   Beliau juga pernah bertemu dengan seseorang berasal dari Bahrain, ia adalah seorang pengemis, kemudian beliau mengajaknya ke rumah untuk dijamu, dan setelahnya syeikh mengambil faedah Bahasa darinya. Syeikh selalu mengambil faedah bila bertemu dengan orang arab, dan ini adalah bentuk kecintaan beliau terhadap Bahasa arab.

o   Pada tahun 1964 M beliau pergi ke Mesir. Beliau pergi kesana karena keinginan yang kuat untuk bisa kuliah di timur tengah untuk mempelajari Bahasa arab. Ia bisa sampai setelah mengirim surat kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, pada bulan ied fitri dengan permintaan bahwa beliau ingin belajar di cairo mesir. Dua sampai tiga minggu kemudian, datang surat balasan dari wakil presiden, Hussen El-Shafei (yang pada saat itu adalah penanggungjawab di Al Azhar, tertulis bahwa “Anda diterima di Al Azhar sampaikan surat balasan ini ke kedubes Mesir di New Delhi”  Dan beliau pun berangkat pada bulan januari tahun 1964 M.

o   Di Mesir beliau tinggal di kota Nashiir Buhus lilislamiyah, kotanya para pelajar.

o   Beliau masuk ke dalam Fakultas Bahasa Arab di Universitas Al Azhar. Pada saat itu ijazah S2 syeikh dari Universitas Aligarh tidak diakui oleh Universitas Al Azhar, sehingga syeikh harus mengulang S2 kembali. Setelah melewati pembelajaran, akhirnya ia menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan tesis bertemakan “Kosa kata Bahasa perancis yang di-Arab-kan.”

·       Syeikh dan Madinah

o   Beliau tinggal di Madinah kurang lebih lima puluh tahun, sampai hari ini.

o   Beliau mengatakan, “Sebaik-baiknya hidup di dunia adalah hidup di Madinah Munawwaroh.

·       Syeikh tentang pembelajaran Bahasa arab

o   Beliau mengatakan, “sesungguhnya Bahasa arab adalah Bahasa yang mudah, namun orang-orang, para guru, metode, dan siswalah yang mempersulitnya. Mereka menyulitkan dengan metode yang mereka buat sendiri, dengan menjelaskan sesuatu yang rumit semenjak awal pembelajaran.”

·       Awal mula beliau menulis kitab durussulughoh

o   Beliau membuat silabus untuk pelajar di Universitas Madinah, setiap malam beliau mempersipakan dan menulis bahan ajar, semua beliau tulis dengan kesungguhan, dan aku bagikan kepada murid-muridku di Jamiiah pada pagi harinya.

o   Jilid pertama dari silabus ini selesai aku tulis dan ajarkan (selama 6 bulan), kemudian diterbitkan oleh jamiiah dan berikutnya terbit jilid kedua dan ketiga.

o   Beberapa bulan kemudian Jamiiah Islamiyyah Madinah (Universitas Madinah) mengadakan dauroh (seminar) di berbagai negara-negara di seluruh dunia, dan membagikan modul ini. Dan begitulah bagaimana buku ini tersebar.

o   Mulai dari saat itu silabus atau modul ini diperbanyak oleh beberapa orang, ada yang meminta izin dari beliau ada juga yang tidak.

o   Bahkan ada sebuah negara yang mencetak tanpa izin dan menghilangkan nama beliau.

·       Tambahan :

o   Salah satu kitab beliau yang terkenal juga adalah : “Europe Speaks Arabic” dimana syeikh menyebutkan kurang lebih 200 kosa kata Bahasa arab yang menjadi bagian Bahasa inggris dan perancis, dan  beliau juga menyampaikan hal ini dalam 10 bahasa yang berbeda. Buku Europe Speaks Arabic : mengandung Bahasa-bahasa eropa yang terkandung di dalamnya Bahasa arab. Contoh : Kata Trafalgar Square (kata-kata ini ada di jantung London). Artinya dalam Bahasa arab adalah : Pinggir gua (طرف الغار)

o   Beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan beliau adalah :

1.     Senantiasa meminta dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam menuntut ilmu, terutama ilmu akhirat.

2.     Senantiasa memiliki ‘azm dan semangat yang kuat dalam berthalabul ‘ilmi.

3.     Meyakini bahwa siapa yang Allah kehendaki maka ia akan mendapatkan keutamaan pada kehidupannya.

4.     Tidak ada seorangpun yang tidak mampu untuk mempelajari sesuatu, karena Allah Maha Mendegar dan Mengetahui setiap doa, keinginan dan usaha hambanya.

5.     Istiqomah dalam menuntut ilmu.

6.     Sesungguhnya tidak ada kata terlambat dalam menuntut ilmu, karena yang kelak akan dinilai oleh Allah bukan yang paling banyak amalanya, namun yang paling baik amalannya.

Wallahu Ta’aala A’lam Bis Shawab.

 

Sumber tulisan :

1.     Maktabah Syameela

2.     Video wawancara : https://youtu.be/5wUY8EKR6y8

3.     Artikel https://belajarbahasaarabdasar.blogspot.com/2018/11/biografi-dr-v-abdur-rahim-penulis-durusul-lughah.html?m=1

Selasa, 29 September 2020

"Janganlah kau terburu-buru dalam menuntut ilmu"


Beberapa bulan yang lalu Ana menyampaikan pada seorang Syeikh (semoga Allah melindungi beliau), tentang Ana yang merasa tidak ada perkembangan dalam pemahaman ilmu terutama dalam ilmu bahasa arab. Kemudian Beliau menasehati Ana,  "Nafilah Sesungguhnya kamu bukanlah tidak mengalami perkembangan,  melainkan kamu tidak merasakan perkembangan itu atau mungkin belum,  namun tunggulah beberapa tahun,  maka kamu akan melihat perkembangan yang lebih banyak."

Hari ini, kala Ana mendengar muhadoroh syeikh profesor doktor Abdus Salam As Syuwair (semoga Allah melindungi beliau) : 

"Kalau kamu mengira bahwa kamu belum merasakan manfaat dari ilmumu, sesungguhnya kamu sudah mengambil manfaat darinya,  tapi kamu belum bisa mengetahui kemanfaatannya kecuali setelah kamu menghabiskan waktu yang lebih lama lagi di majelis ilmu." 

Dari kedua nasehat ini, maka Ana pun tahu bahwa ilmu tidaklah didapat satu atau dua hari,  akan tetapi didapat oleh waktu yang lama. Mungkin sekarang, Ana belum merasakan manfaat atau perkembangan dari ilmu yang sedang dipelajari. Namun setelah bertahun tahun dengan terus menuntut ilmu maka -dengan izin Allah- semoga Ana akan mengetahuinya.

Kesimpulannya :

"Terburu buru dalam menuntut ilmu itu adalah hal yang bahaya,  janganlah seseorang terburu-buru dalam mendapatkannya,  tidak juga dalam memahaminya,  tidak juga dalam menghafalnya,  dan tidak juga dalam mengajarkannya. Karena sungguh,  ilmu itu tidak didapatkan dengan terburu-buru, melainkan didapatkan dengan perlahan-lahan."

Wallahu Ta'aala A'lam bis shawab
-Bintu Haris

"Kan Kugunakan Waktu Ini Sebaik-baiknya"

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara :
(1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
(5) Hidupmu sebelum datang matimu.” 
(HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341, Hadis Shahih)

Ummahat dan Akhowat yang Kami cintai karena Allah, tak ada yang tau kapan Allah akan memulangkan kita semua ke kampung akhirat.

Telah dikabarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara,  maka yang harus kita lakukan adalah mencari bekal sebaik-baiknya untuk kelak mencapai kebahagiaan akhirat yang abadi. Kita ini layaknya musafir, yang pasti akan kembali.

Maka manfaatkanlah setiap waktu yang Antunna miliki. Bila sebelumnya disibukkan dengan menuntut ilmu di suatu majelis,  kemudian Allah takdirkan antunna tak bisa lagi menuntut ilmu di majelis tersebut,  maka janganlah waktu-waktu yang biasa antunna gunakan dalam kemanfaatan itu hilang begitu saja. 

Bergegaslah untuk mencari majelis lain, yang dapat menyibukkan Antunna dari kesibukkan dunia yang tak ada manfaatnya. Karena seorang mumin dan muminah yang sejati adalah yang istiqomah dalam setiap amalannya.

Hari ini pintu-pintu majelis ilmu dibuka dengan lebarnya,  tak ada satu waktu pun yang tak bisa kita temukan kecuali di dalamnya terdapat majelis-majelis ilmu. Apalagi dengan wasilah yang ada pada zaman ini, keberadaan hp,  laptop,  tv,  radio,  dll, memudahkan antunna untuk menuntut ilmu tanpa harus menempuh perjalanan jauh,  tanpa harus menghabiskan waktu perjalanan yang lama.

Maka manfaatkanlah setiap waktu luang Antunna, jangan sampai kekosongan waktu membuat kita lalai. Dan jangan sampai kelalaian kita hari ini membuat kita menyesal kelak di hadapan Rabbul 'aalamiin.

Semoga Allah menjaga keikhlasan hati, keistiqomahan,  dan ketetapan hati terhadap agama islam ini. Aamiin.

Wallahu A'lam Bis Shawab.

#Sebuah nasihat yang ditulis untuk diri kami pribadi,  dan untuk akhowat dan ummahat (grup pembelajaran durussullughoh) yang Kami cintai karena Allah Taala.

- Bintu Haris

"Yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam menuntut ilmu"



Dahulu para salaf menyadari bahwa tidak mungkin mereka mendapatkan ilmu kecuali oleh sebab kehendak Allah..
Begitu pula dengan rezeki,  tidak mungkin mendapatkannya kecuali oleh sebab kehendak Allah..
Begitu pula dengan ketenangan hidup,  tidak mungkin mendapatkannya kecuali oleh sebab kehendak Allah..

Pertanyaanya, mengapa kerap kali engkau masih sadarkan itu semua pada dirimu yang sama sekali tak bisa menghendaki apa-apa?

Dahulu para salaf bukan hanya sibuk menuntut ilmu,  namun mereka juga sibuk beribadah. Karena mereka tau,  bahwa yang mampu menjadikan ilmu tersebut ada pada mereka hanyalah Allah Taala,  Rabb mereka.

Tanpa kehedak,  taufik,  dan hidayah dari Allah,  ilmu yang diperjuangkan dengan keras,  harta yang dicari dengan kepayahan,  ketenangan yang diusahakan dengan kesusahan,  adalah 'ketiadaan'. 

Karena semua itu ada,  karena kehendak yang Allah berikan untuk kita.

Lalu,  apa yang harus diri ini lakukan?
Yang harus dilakukan adalah mengikuti hidupnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan para salaf (sahabat, tabiiin, atbaut taabiin).
Mereka hidup seimbang.

Bila di siang hari disibukkan oleh menuntut ilmu,  mencari rezeki,  bermuamalah dengan sesama,  maka manfaatkanlah waktu malam untuk bermunajat kepada Allah, khusus untuk memohon kepadaNya. 

Ingatlah firman Allah Ta'aala :

(وَجَعَلۡنَا ٱلَّیۡلَ لِبَاسࣰا ۝  وَجَعَلۡنَا ٱلنَّهَارَ مَعَاشࣰا)

"Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian. dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan."
[Surat An-Naba' 10 - 11]

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

" ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ"

"Tuhan kita Tabaaraka wa ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, Dia berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku berikan, siapa yang minta ampun kepada-Ku akan Aku ampuni."
(HR. Bukhari no.1145 dan Muslim no. 1808)

Sekarang, kita sering kali mencari waktu-waktu mustajab (diterimaNya) doa,  padahal Allah telah menyediakannya khusus setiap hari di sepertiga malam terakhirnya,  maka masikah engkau ragu untuk bersegera mendapatkan kehendak,  taufik, serta hidayahNya? 

Bangunlah disepertiga malam terakhir,  adukan dan mohonkan setiap keinginan yang belum tercapai. Karena sungguh,  Allah jadikan malam hari itu agar engkau keluhkan semua rasa dan harapan di siang hari, sehingga datang pagi harinya lagi dan kau sudah mendapati dirimu lebih berlapang dada.

Kini masalahnya bukan pada usaha yang tak kunjung membuahkan hasil, namun lontarkanlah pertanyaan ini pada dirimu sendiri :

 "Sudahkah engkau berdoa kepada Allah pada tiap sepertiga malam terakhir,  dengan meyakinkan diri bahwa  'yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam menuntut ilmu' , 'yang Aku sembah inilah yang menentukan keberhasilan ku dalam mendakwahi saudaraku' , 'yang Aku sembah inilah yang menentukan rezeki yang ada pada keluargaku' ?"

Manusia itu patut merendah di depan Rabbnya, karena Rabbnya-lah yang menjadikan kehendak sesuatu pada diri manusia tersebut.

Wallahu Ta'aala A'lam Bis Shawab
#Sebuah nasehat untuk diri
- Bintu Haris




Maaf

 Bukan karena  engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai Hiduplah de...