Kamis, 09 April 2020
Rabu, 08 April 2020
'Antara Bersyukur dan Bersabar'
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Allah تعالى berfirman dalam al quran :
((Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhan kalian memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.")) - Surat Ibrahim ayat 7.
((Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar)) - Surat Al Baqarah ayat 155.
"Yuk kita tuliskan daftar rasa syukur kita hari ini !"
Bersyukur bahwa hari ini Allah masih memberikan kesempatan untuk bernafas di dunia ini..
Bersyukur bahwa hari ini Allah masih memberikan kesempatan untuk shalat subuh..
Bersyukur bahwa hari ini Allah masih memberikan kesempatan berkumpul bersama Ibu, Bapak, dan adik-adik di meja kecil kala sarapan pagi..
Bersyukur bahwa hari ini Allah masih memberikan kesempatan membaca Al Quran..
Dan masih banyak rasa syukur atas nikmat Allah yang sangat banyak yang telah dilimpahkanNya sampai saat ini.
Alhamdulillah atas segala nikmatNya.
"Yuk kita tuliskan daftar rasa sabar kita hari ini !"
Bersabar bahwa hari ini diberi nikmat tetap duduk di rumah untuk memanfaatkan waktu..
Bersabar bahwa hari ini masih diberi nikmat untuk belajar walau belajar dari rumah tapi masih diberi kesempatan menimba ilmu..
Bersabar bahwa hari ini masih diberi nikmat untuk tasmi' Al Quran dengan Ustadzah walau melalui aplikasi di internet..
Bersabar bahwa hari ini masih bisa menjaga silaturahmi dengan teman walau lewat pesan elektronik..
Setiap hamba Allah..
✨Pasti telah Allah takdirkan bagi mereka "nikmat" yang harus disyukuri dan "cobaan" yang harus dihadapi dengan bersabar.
✨Syukur dan Sabarlah yang harus dirasakan untuk setiap nikmat atau musibah yang hari ini menimpa Kita atau bahkan menimpa setiap hamba-hamba Allah lainnya di muka bumi ini.
✨Bersyukur karena Kita masih ada di dunia ini untuk mengejar amalan-amalan baik untuk akhirat kelak, untuk mengumpulkan bekal agar melewati perjalanan setelah hari kiamat kelak dengan mudah dan lancar (In Syaa Allah).
😩Mungkin hari ini para laki-laki tak bisa lagi melakukan sholat berjamaah di masjid setiap sholat lima waktu sebagaimana hari biasanya.
😍Namun harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk sholat berjamaah di rumah bersama keluarga.
😩Mungkin hari ini sebagian orangtua ada yang tak bisa bekerja ke kantor atau ke pasar.
😍Namun harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk tetap bekerja dari rumah.
😩Mungkin hari ini sebagian pelajar dan mahasiswa ada yang tak bisa belajar langsung dengan guru dan dosen.
😍Namun harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk tetap belajar dari rumah.
😩Mungkin hari ini sebagian orang ada yang tak bisa bersilaturahmi langsung mengunjungi sanak saudara.
😍Namun harus tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk tetap bersilaturahmi walau hanya lewat telpon genggam atau pesan elektronik.
✨Dan banyak "mungkin-mungkin" lainnya yang terjadi pada hari ini namun Allah Taala (Rabb semesta alam ini) masih memberikan opsi atau pilihan lain yang dapat menggantikannya.
❔Agar apa? tentunya, agar kita dapat memanfaatkannya sebaik mungkin.
❔Untuk apa? tentunya untuk menjadikannya wasilah dalam rangka meraih ketaatan kepadaNya, bukan untuk leha-leha sehingga menjerumuskan pada lubang maksiat kepadaNya.
🌌Hari ini, Allah masih berikan kesempatan dengan menghadirkan pilihan (opsi) lain di tengah tersebarnya wabah hampir di seluruh dunia, tapi tetap Alhamdulillah 'Alaa Kulli Haal.
Alhamdulillah, belum malaikat maut, atau terbitnya matahari dari barat, atau hari kiamat yang kita hadapi.
Karena kalau yang terjadi adalah salah satu diantara tiga itu.
Masih adakah opsi (pilihan lain) untuk jiwa ini mencari amalan baik sebanyak mungkin?
Masih adakah opsi (pilihan lain) untuk jiwa ini meminta ampun atas setiap dosa yang telah dilakukan selama berada di dunia ini?
Selama Allah masih memberikan kesempatan lain pada hari ini, maka hendaknya setiap hamba Allah memaksimalkannya.
📄Sholat lima waktu sekhusyu mungkin, berdzikir kepada Allah sebanyak mungkin (dengan menghadirkan hati), tilawah, menghafal, mentadabburi al-quran semaksimal mungkin, birrul waalidain (berbakti kepada orangtua), puasa senin kamis (atau yang merasa masih punya hutang puasa, boleh dibayar mumpung aktivitas sedang di rumah), bertafakkur (mengingat hutang atau dosa apa yang belum dibayar atau belum dimintakan maaf atasnya), berthalabul 'ilm (mendengar ceramah ustadz atau ustadzah), bersedekah, dan masih banyak lagi hal-hal wajib atau sunnah atau mubah lainnya yang dapat dilakukan.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
Ya Allah, berikanlah setiap hamba-hambamu rasa sabar dan syukur yang tak terputus kepadaMu. Aamiin.
11.30 WIB
20 Maret 2020
#Hamba Allah
Menikah itu... Untuk ibadah :)
Ada sebuah nasihat yang pernah kudengar , katanya...
"Menikah itu, untuk ibadah."
Bukan sekedar mencapai sebuah rasa yang belum pernah dirasa.
Bukan sekedar mewujudkan mimpi digandeng laki-laki shalih, dibimbing laki-laki berilmu, dimanjakan laki-laki gentle, dan lain-lain.
Bukan sekedar mewujudkan mimpi digandeng perempuan shalihah, didiampingi perempuan berilmu, dimanjakan perempuan berhati lembut, dan lain-lain.
Tapi, menikah itu adalah bentuk ketaatan pada Allah, untuk memenuhi perintahnya.
Serta untuk diri yang ingin mencari salah satu jalur menuju Syurga, untuk diri yang ingin menjaga ketakwaan bersama seseorang yang juga ingin menjaga ketakwaannya pada Allah.
Karena kalau menikah dengan alasan hawa nafsu dunia saja, maka cinta itu bisa hilang, laki-laki yang sholih suatu hari bisa diganggu syeithan, ilmu yang diberikan suatu hari bisa saja terlupakan, kegentle-annya pun bisa jadi hilang sebaliknya juga perempuan.
Inilah kenyataannya.
Maka semua itu harus kita kembalikan karena Allah, terutama untuk meraih Syurga Allah.
Jangan suka tertipu dengan kisah-kisah romansa atau pemandangan-pemandangan indah pasangan-pasangan yang baru menikah, semua itu ada fasenya.
Maka kalau kamu menikah karena Allah, seberat apapun fase yang nantinya akan kamu hadapi, in syaa Allah kamu akan kembalikan semuanya kepada Allah.
Allah yang telah memberikan kita petunjuk berupa Al-Quran dan Sunnah.
Allah yang telah memberikan kita kesabaran dan rasa syukur yang luas.
Allah yang telah mengajarkan akhlak dan ilmu.
Allah yang telah memerintahkan ibadah dan muamalah.
Semua sudah diatur, kita tinggal ikuti jalurnya, dan menghindar dari godaan iblis dari jin dan manusia.
29 Maret 2020
-bintuharis
Minggu, 08 Maret 2020
“7 Fase Besar Setelah Terjadinya Hari Kiamat”
|
(Dalam Kitab “Al-Irsyad Ilaa
Shahihil I’tiqood Wa Raddu Alaa Ahli Syirki Wal Ilhaad ” karangan
DR. Sholih Bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan dalam bab iman kepada hari Akhir
subbab beriman dengan apa yang akan terjadi pada hari kiamat)
|
Bismillahirahmanirrahim, Segala puji bagi Allah ﷻ Rabb semesta alam, yang telah memuliakan kita dengan iman, dan memberi petunjuk pada kita menuju keagungan syariat-Nya, memberikan kebahagiaan pada kita dengan mengikuti rasul-Nya yang termulia. Aku bersaksi bahwa tidak ada Rabb yang berhak disembah selain Allah ﷻ, sendiri tanpa sekutu bagi-Nya, dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, maupun nama dan sifat-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, semoga doa dan keselamatan tercurah pada Nabi Muhammad ﷺ dan keluarganya, para sahabatnya, hingga umatnya hingga akhir zaman.
Hari kiamat merupakan satu diantara enam pokok iman yang
harus kita imani (yakini), sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih muslim
dari sahabat Umar Radhiyallahu anhu berkata Rasulullah ﷺ
ketika menjawab pertanyaan malaikat jibril “Iman adalah kamu beriman kepada Allah ﷻ, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-Nya,
hari akhir, dan beriman kepada Takdir Qadha dan Qadar.”
Maka beriman akan adanya hari kiamat adalah diwajibkan bagi
seorang mu’min apabila menginginkan kesempurnaan iman terdapat pada
dirinya. Beriman kepada hari kiamat atau
pada sebagian kitab disebut dengan ‘hari akhir’ , terbagi menjadi lima poin
besar, yakni :
1-
Beriman kepada tanda-tanda hari kiamat.
2-
Beriman kepada Hari Kiamat (hari terjadinya).
3-
Fitnah kubur , adzab kubur, dan ni’mat kubur.
4-
Hari kebangkitan dan hari berkumpulnya para manusia.
5-
Beriman dengan apa yang akan terjadi pada hari kiamat
(setelah terjadinya hari tersebut).
Pada kesempatan kali ini, Saya akan menguraikan akan hal-hal
apa saja yang terjadi pada hari kiamat setelah para manusia dibangkitkan dan
dikumpulkan kembali di Padang Mahsyar.
Berkata Imam Safarini : “ Dan ketahuilah bahwa hari kiamat
adalah hari yang sangat dahsyat dan mengerikan, pada hari tersebut hati-hati
manusia mencair, seorang ibu yang sedang menyusui anak (yang dikasihinya)
meninggalkan anak tersebut begitu saja, seketika anak-anak beruban, dan itu
adalah hal yang pasti terjadi, sebagaimana telah disebutkan di dalam AL-Quran
dan Al-Hadis, serta telah disepakati oleh para ulama, dan itulah yang disebut
dengan hari kiamat.”
Setelah Manusia dibangkitkan dan
dikumpulkan di sebuah tanah lapang yang luas, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ
: ((yaitu pada hari (ketika) semua orang bangkit menghadap tuhan seluruh
alam))[1]
kemudian disebutkan bahwa ((dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun))[2]
sungguh betapa lamanya hari itu ! sampai kemudian Rasulullah ﷺ
meminta keringanan untuk setiap hamba-Nya yang beriman. Dijelaskan juga oleh
Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadis “Apabila
terjadi hari kiamat, maka matahari didekatkan kepada manusia sampai jaraknya
sebesar satu atau dua mil. Maka matahari melelehkan
para manusia sehingga menenggelamkan manusia dengan keringat mereka sendiri,
banyak keringat tersebut sesuai kadar perbuatan manusia di dunia, diantara
mereka ada yang keringatnya sampai tumit, dan ada yang sampai pinggangnya, serta
ada yang tenggelam dalam keringatnya.”[3] Kemudian setelahnya manusia akan mengalami tujuh fase besar , yakni :
1-
Fase Perhitungan
Yaumul Hisab atau dapat diartikan hari
perhitungan, pada hari ini Allah ﷻ
akan menunjukkan kepada
setiap hamba-Nya balasan yang akan ia peroleh atas perbuatan-perbuatan yang
telah ia kerjakan selama berada di dunia. Allah ﷻ
akan memperlihatkan (mengingatkan) kembali setiap perbuatan yang dahulu pernah dilakukan
di dunia (atau bahkan sudah dilupakan oleh hamba-Nya). Sebagaimana disebutkan
dalm firman Allah ﷻ : ((Pada hari itu mereka semuanya
dibangkitkan oleh Allah, lalu diberitakannya-Nya kepada mereka apa yang telah
mereka kerjakan. Allah menghitungnya (semua amal perbuatan itu), meskipun
mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu))[4],
Allah ﷻ juga berfirman : ((Dan diletakkanlah kitab
(catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan
terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “betapa celakanya
kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar
melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka
kerjakan (tertulis) . Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun))[5].
Setiap perbuatan hamba, bahkan yang hanya sebesar biji sawi pun diketahui dan
dicatat oleh Allah ﷻ, dan semua itu akan dimintai
pertanggung jawabannya.
Hisab (perhitungan) memiliki tingkatan
tersendiri, ada yang di hisab dengan berat, dan ada pula yang di hisab dengan
ringan. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Allah ﷻ
akan menghisab setiap
makhluknya, bagi hambanya yang beriman, maka Allah ﷻ
akan menetapkan perbuatan baiknya dan meminta pertanggung jawaban atas
dosa-dosanya, sebagaimana yang sudah disebutkan dalam AL-Quran dan hadis.
Sedangkan orang-orang kafir, maka tidak akan dibedakan antara perbuatan baiknya
dan dosa yang mereka kerjakan, karena kekufuran (ketidak percayaan mereka
terhadap agama Allah ﷻ) sudah meniadakan seluruh
kebaikan yang mereka kerjakan, dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban
atas kekufuran mereka di dunia ini.”
Maka hal yang pertama kali akan
diperhitungkan nanti oleh Allah ﷻ
atas orang yang beriman adalah shalatnya, sebagaimana dalam hadis shahih dari
sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa nabi ﷺ berkata : “Hal pertama yang akan
diperhitungkan atas seorang hamba adalah sholatnya.”[6]
2-
Fase diberikannya catatan amalan
Setelah amalan kita diperhitungkan
maka, Allah ﷻ akan memberikan kepada setiap makhluknya buku
catatan perbuatan tersebut. Suhuf-suhuf (lembaran catatan) ini telah dicatat
oleh para malaikat, setiap perbuatan dan perkataan yang kita kerjakan di dunia
ini maka tertulis di dalamnya. Sebagaimana
firman Allah ﷻ : ((Dan setiap manusia
telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari
kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka.)) dan ((“Bacalah
kitabmu, cukuplah dirimu pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu))[7].
Sebagian manusia pada hari itu ada
yang menerima catatan amalnya dari sebelah kanan sebagaimana dalam firman Allah ﷻ:
((Adapun orang yang kitabnya
diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, “Ambilah, bacalah kitab kitabku
(ini)”))[8]
dan ada juga yang menerima catatan
amalnya dari sebelah kiri sebagaimana dalam firman Allah ﷻ:
((Adapun orang yang kitabnya
diberikan di tangan kirinya , maka dia berkata “Alangkah baiknya jika kitabku
(ini) tidak diberikan kepadaku.”))[9]
3-
Fase Penimbangan Amalan
Setelah itu para manusia menuju fase
ketiga yakni penimbangan amalan, Allah ﷻ
berfirman : ((Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka
barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya , mereka itulah orang yang beruntung.
Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang
telah merugikan dirinya sendiri karena mengingkari ayat-ayat kami))[10].
Setiap orang bersama dengan amalan dan kitab amalannya akan
ditimbang di suatu mizan (timbangan) yang memiliki dua daun
timbangan. Disebutkan dalam firman Allah ﷻ : ((Dan
adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam
kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah))[11]
4-
Fase Melewati Jalan Shirotul Mustaqim
Setelah fase pengadilan (pertanggung
jawaban setiap amalan) telah dilewati maka fase berikutnya yang harus dihadapi
oleh setiap hamba adalah melewati jembatan Shiratul Mustaqim. Yakni
jembatan panjang, yang terbentang di atas permukaan neraka, dapat dilewati oleh
manusia sesuai dengan kadar amalannya di dunia, jembatan ini lebih halus dari
satu helai rambut, lebih tajam dari pedang, dan lebih panas dari bara api. Maka
diantara manusia ada yang melewatinya secepat kilat, ada pula yang melewatinya secepat
tiupan angin, ada yang seperti terbangnya burung, ada yang seperti larinya kuda
perang, ada yang seperti larinya lelaki tangguh, ada yang seperti jalannya manusia
biasa, ada yang merangkak, dan ada yang
melewatinya dalam keadaan tertaih-tatih kemudian jatuh ke dalam neraka, dan ada
yang langsung dijatuhkan ke neraka tanpa melewatinya (yaitu orang kafir).[12]
5-
Telaga Rasulullah ﷺ
Berkata AL-Hafidz Suyuthi : “telah
banyak periwayatan yang menceritakan tentang telaga Rasulullah ﷺ,
lebih dari seratus lima puluh periwayatan sahabat, diantara mereka adalah khulafaur
Rasyidin yang empat, para penghafal al-quran dari para sahabat, dan
lainnya.”
Berkata Rasulullah ﷺ
: “Telagaku seluas
perjalanan selama satu bulan dan panjang tepi-tepinya sama demikian. Airnya
lebih putih dari susu, wanginya lebih wangi dari minyak misk, cangkirnya
sejumlah bintang-bintang yang ada di langit. Barang siapa yang telah meminum
air telaga tersebut niscaya dia tidak akan merasa haus untuk selama-lamanya.”[13]
Disebutkan bahwa telaga ini juga memiliki dua saluran yang dihubungkan ke syurga, yaitu
ke sungai al-Kautsar. Maka telaga yang
dalam bahasa arab disebut Al-Haudh merupakan salah satu nikmat yang
Allah ﷻ berikan kepada
Rasulullah ﷺ dan umatnya, sebagaimana
terdapat di dalam surat al-kautsar : ((Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu nikmat yang banyak)), para mufassirin (ahli tafsir) mengatakan
bahwa arti al-kautsar disini selain bermakna “nikmat yang banyak” adalah
nama sungai di syurga yang merupakan telaga Rasulullah ﷺ
.
6-
Pemberiaan Syafaat Rasulullah ﷺ
Syafaat secara bahasa artinya adalah
permohonan atau keinginan, secara ’urf (kebiasaan) artinya adalah
memintakan kebaikan bagi orang lain, atau dikatakan bahwa syafaat
jugaberarti sesuatu yang genap lawan dari tunggal, dimana seseorang meminta
kepada Allah ﷻ suatu kebaikan bagi seseorang
lainnya.
Pada hari kiamat kelak, Rasulullah ﷻ
akan memberikan syafaat kepada setiap hamba yang ia kehendaki, sebagaimana
dijelaskan dalam penjelasan Kitab Aqidah Thahawiyah bahwa permohonan
yang Rasulullah ﷻ ajukan kepada Rabbnya adalah agar menyegerakan pengadilan
pada yaumul mahsyar (fase dimana manusia dikumpulkan di padang mahsyar, keadaanya
sebagaimana kita telah sebutkan di awal) pada hari kiamat kelak, sehingga umat
manusia pada saat itu berbondong-bondong datang kepada Nabi Muhammad ﷻ
, kemudian Nabi ﷻ datang bersujud seraya memuji
Allah ﷻ, kemudian memohon kepada Allah
ﷻ agar Allah ﷻ
menyegerakan pengadilan terhadap mereka. Oleh Karena itu para ulama menyebutkan
bahwa syafaat itu adalah doa Nabi ﷻ
pada hari kiamat kelak untuk umatnya dan
termasuk juga untuk manusia lainnya.
Namun pada hakikatnya syafaat itu
hanya milik Allah ﷻ, sebagaimana dalam firmanNya :
((Katakanlah : “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.”))[14]
akan tetapi Allah ﷻ memuliakan sesorang yang
dipilih dan dikehendaki olehNya, untuk diizinkan memberikan syafaat dan
memuliakan orang yang diberi syafaat dengan izin Allah ﷻ.
7-
Syurga dan Neraka
Sampailah kita pada fase akhir
perjalanan setelah hari kiamat terjadi, yaitu dua tempat besar yang menjadi
persinggahan terakhir setiap manusia, tempat dimana semua penghuninya akan
kekal abadi di dalamnya. Dua tempat ini bernama Syurga dan Neraka, Syurga
diperuntukkan untuk orang-orang yang beriman, dan Neraka diperuntukan untuk
orang-orang yang tidak mengimani Allah ﷻ,
sebagaimana Allah ﷻ berfirman : ((Sesungguhnya
orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (Syurga) yang penuh
kenikmatan)), ((dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar
berada dalam neraka))[15] .
Keduanya merupakan makhluk Allah ﷻ
yang pada hari ini sudah ada, sebagaimana disebutkan oleh Allah ﷻ
mengenai Syurga : ((disediakan bagi orang-orang yang bertakwa))[16]
dan disebutkan oleh Allah ﷻ
mengenai Neraka : ((disediakan bagi orang kafir))[17]
dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menjelaskan akan keberadaan kedua tempat
tersebut.
Dalam penjelasan Kitab Aqidah
Thahawiyah disebutkan bahwa Allah ﷻ
tidak memberikan ganjaran bagi seseorang kecuali terdapat sebab yang
menjadikannya mendapatkan ganjaran tersebut, yaitu amalan baik, sebagaimana
disebutkan ﷻ : ((Dan barang siapa
mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir
akan perlakuan zhalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan
haknya))[18] ,
dan begitu pula tidak memberikan hukuman bagi seseorang kecuali seseorang
tersebut telah mengerjakan suatu perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah ﷻ
, maka sesungguhnya Allah ﷻ
adalah pemberi, tidak menghalangi yang pantas diberi, dan menghalangi yang
tidak pantas diberi.
Dan Amal Shalih (perbuatan
baik) itu adalah sebab masuknya seseorang ke dalam Syurga, dan Amal Sayyiah (perbuatan
buruk) itu adalah sebab masuknya seseorang ke dalam Neraka.
Ya Allah kami meminta tempat terbaik
di Syurga-Mu kelak, dan jauhkan kami dari api Neraka, sesungguhnya engkau yang
Maha Mendengar lagi Maha Menjawab permohonan hambanya.
Wa’llahu A’lam Bish Shawab.
Bogor, 08/02/2020
Penulis : Bintu Haris
Sebagai : Tugas akhir semester lima
pada Mata Kuliah Akidah
[1]
Al- Muthafifin ayat 6.
[2]
Al-Maa’arij ayat 4.
[3]
Shahih Muslim dari Miqdad Radhiyallahu anhuu.
[4]
Al-Mujadilah ayat 6
[5]
Al-Kahfi ayat 49
[6]
Shahih Bukhori dan Muslim
[7]
Al-Isra ayat 13, 14.
[8]
Al-Haqqah ayat 19.
[9]
Al-Haqqah ayat 25.
[10]
Al-A’raf ayat 8-9.
[11]
Al-Qaari’ah 6-9.
[12]
Diterjemahkan dari Kitab Al-Irsyad Ilaa Shahihil I’tiqod Karangan Syeikh Sholih Fauzan, dan
tambahan referensi dari Kitab Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah
karangan Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz.
[13]
Shahih Muslim diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash.
[14]
Ar-Ra’d ayat 44
[15]
Al-Infithar 13-14
[16]
Ali-Imran ayat 133.
[17]
Al-Baqarah ayat 24.
[18]
Thaha ayat 112.
"Sebab-Sebab Meraih Cinta Allah Taala"
Sebab-Sebab Meraih
Cinta Allah Taala
“Ya Allah Ajarkan aku mencintaiMu”
“Ya Allah Aku sungguh-sungguh mencintaiMu.”
“Ya Allah Aku ingin meraih cintaMu.”
Bismillahirahmanirrahim..
Hamba-hamba Allah yang selalu mengharap cinta Allah.
Cinta kepada Allah adalah salah satu pembuktian kita akan
seberapa kuat keimanan kita kepadaNya. Cinta kepada Allah juga merupakan salah
satu konsekuensi dari keimanan yang kita miliki di dalam hati. Maka cinta ini
erat ikatannya dengan tauhid (peng-Esaan) seseorang kepada Rabbnya (Tuhan).
Karena cinta hakiki yang seharusnya kita tanamkan dalam hati pertama kalinya
adalah untuk satu-satunya Rabb yang berhak diibadahi, diagungkan, sebagai
penguasa alam ini. Oleh sebab itu ketika cinta kita terhadap Allah dikalahkan oleh cinta
kepada makhluk-makhluk Allah, bisa menjadikan pupusnya ketauhidan pada hati
kita.
Maka dari itu rasa cinta kepada Allah harus dibangun oleh sebab-sebab
yang dapat menjadikan kita meraih cinta hakikiNya. Ibnul Qayyim –Rahimahullah- menyebutkan 10 hal yang dapat
menjadi sebab kita meraih rasa cinta kepada Allah, berikut rincinya :
1.
Membaca AL-Quran dengan
menikmati setiap arti katanya dan memahami hal yang Allah maksudkan.
Yakni, seperti kita mendengar ayat “Maka
nikmat tuhanmu manakah yang kau dustakan?” (AL-Mulk : 13) maka kita benar-benar
meresapi bahwa sungguh banyak nikmat yang telah diberikan, seperti nikmat pagi
dan malam, setiap hembusan nafas, dan lain-lain.
2.
Mengerjakan sholat-sholat
sunnah setelah sholat-sholat yang wajib. Berikut tabelnya :
|
Shalat Rawatib
|
Shalat Isyroq
|
Shalat Dhuha
|
Shalat Witir
|
Shalat Tahajud
|
|
Sebelum Subuh (Sunnah Fajar)
2 Rakaat
|
15 Menit Setelah matahari terbit sekitar
jam 06.15 WIB.
Dikerjakan di Masjid selepas shalat
subuh berjamaah.
(Sunnah Syuruq)
Minimal 2 Rakaat, Maksimal 12 Rakaat.
|
Setelah matahari ada di terbit
sempurna, sekitar jam 07.30 WIB sampai 20 menit sebelum matahari naik berada
di tengah.
|
Umumnya dilakukan sesudah tidur
setelah melasanakan shalat tahajud dengan jumlah ganjil minimal 1 dan tidak
ada maksimal. Namun bila seseorang merasa tidak akan bangun pada sepertiga
malam maka tidak mengapa ia mengerjakannya sebelum tidur.
|
Shalat pada sepertiga malam, di saat
Allah turun ke muka bumi ini. Yakni
diharuskan tidur terlebih dahulu bagi yang hendak mengerjakannya. Minimal 2
rakaat dan tidak ada maksimal namun kelipatan 2.
|
|
Sebelum Dzuhur
4 Rakaat
|
||||
|
Setelah Dzuhur
2 Rakaat
|
||||
|
Setelah Maghrib
2 Rakaat
|
||||
|
Setelah Isya
2 Rakaat
|
3.
Membiasakan berdzikir
kepada Allah pada setiap keadaan yaitu
mengucapkannya dengan lisan, menghadirkannya dalam hati, dan
mengamalkannya dalam perbuatan.
4.
Mendahulukan apa yang Allah
cintai dibandingkan apa yang hambanya cintai (ketika mendapati dua keinginan
yang bertentangan antara ridho Allah dan
ridho manusia).
5.
Mempelajari dan mengingat
sifat dan nama-nama Allah, yang menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya
Rabb yang maha sempurna dan maha agung, serta yang berhak diberikan pujian
atasnya.
6.
Mengingat dan merasakan
nikmat-nikmat Allah baik yang nampak maupun yang terdapat di dalam batin serta
menyaksikan kebaikan serta nikmat yang Allah berikan kepada hambanya.
7.
Memperbaiki hati terhadap
Allah dan selalu merasa fakir di hadapannya.
8.
Berdua-duaan dengan Allah
pada sepertiga malam di saat Ia sedang turun ke bumi, dengan cara berdoa,
meminta, berdzikir, membaca al quran, dan menutup perjumpaan dengan Allah
dengan memohon ampun dan bertaubat.
9.
Duduk bersama orang-orang
baik dan orang-orang yang mencintai Allah, dan mengambil faedah dari setiap
perkataan-perkataan mereka.
10.
Menjauhi segala perbuatan
yang dapat menjauhkan hati kita dari Allah yakni dari hal-hal menyibukkan yang
dapat membuat kita lupa kepadaNya.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
@beakhoirperson
-Bintu Haris
Jumat, 06 Maret 2020
Antara dunia dan akhirat
#Muhasabah diri yuk
اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لأخرتك كأنك تموت غدا
Kerjakanlah amalanmu di dunia seakan-akan kamu akan tinggal selamanya, dan kerjakanlah amalan akhiratmu seakan-akan kamu akan kembali (ke sisi Allah Taala) esok."
Camkan bahwa mungkin malaikat maut sedang menunggu waktu mencabut nyawamu.
Camkan bahwa mungkin sholatmu hari ini bisa jadi menjadi sholat terakhirmu.
Camkan bahwa mungkin perjumpaanmu dengan orang yang kamu sayangi bisa menjadi pertemuan terakhir.
Lalu, sudah seberapa banyak bekal akhiratmu?
Kalau kita merasa bahwa hidup di dunia ini selama-lamanya maka segala list mimpi (keduniaan) akan kita abaikan sementara, "toh bakal hidup selama-lamanya."
Setidaknya "amalan akhirat" yang kerap kali kita abaikan, akan sebaliknya yakni kita lakukan setaat dan sesempurna mungkin, karena ini akan menjadi titik akhir perjuangan mengumpulkan bekal akhirat.
Sayangnya kita sering lupa, dan harus selalu diingatkan.
Kita sibuk wara wiri di dunia, meraih penghargaan ini, meraih gelar itu, mengerjakan tugas organisasi ini, dan lain-lain. Sehingga hal tersebut membuat kita lupa, bahwa ada "Bekal akhirat" yang menunggu untuk dipenuhi dan disiapkan.
Bukankah kita tau bahwa untuk melakukan perjalanan panjang butuh banyak bekal?
Dunia ini adalah setengah dari awal perjalanan kita, kalau di dunia kita sudah abai dari "mencari bekal akhirat" besok ketika sampai di destinasi berikutnya, yaitu "alam kubur" apa yang mau dipertaruhkan ?
Mau bagaimana cara kita bertahan?
Belum lagi destinasi setelah itu masih banyak, ada hari kiamat, hari kebangkitan, hari berkumpul di padang mahsyar, hari perhitungan, hari penimbangan, jembatan shiratul mustaqim. Sebanyak apa bekal yang sudah kamu siapkan untuk melalui itu semua, sampai terhadap sholat lima waktumu saja masih sering terabaikan? sampai untuk bersedekah saja berpikir panjang (karena takut kehabisan uang) ?
Mungkin kalimat di atas perlu kita tegaskan pada masing-masing diri, kalau perlu kita tulis besar-besar di kamar.
"Esok bisa jadi malaikat mencabut nyawamu!"
Agar ketika dunia ini tengah mengalihkan pikiranmu akan akhirat, kita segera ingat bahwa dunia ini hanya persinggahan sementara. Ibarat perjalanan menuju Surabaya dari Jakarta, maka kita baru sampai di rest area pertama, dan perjalanan masih amat jauh.
Maka perbekalan pun harus diisi sebanyak mungkin, agar selamat sampai tujuan terindah, yakni Syurganya Allah.
Teruntuk diri, yuk perbaiki kekhusyukan shalat !
Teruntuk diri, yuk perbaiki keikhlasan bershadaqah !
Teruntuk diri, yuk perbaiki akhlak, jauhi rasa egois dan amarah tinggi!
Teruntuk diri, yuk perbanyak doa dan dzikir kepadaNya !
Teruntuk diri, stop dulu yuk mengurusi urusan dunia yang tak ada ujungnya, dan mulai berbenah diri akan persiapan menuju akhirat.
Karena kenyataannya dunia ini hanya sementara.
Buat apa kita mencari banyak kenikmatan dunia sampai-sampai menimbunnya, kalau pada akhirnya yang kita butuhkan hanya satu, yakni amalan baik.
Imam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- pernah mengatakan : Tidaklah ia dapat melihat kenikmatan akhirat kecuali ia telah melihat kenikmatan dunia terlebih dahulu.
Benar, kita boleh menikmati dunia ini, tapi secukupnya. Karena terkadang kalau dunia ini tidak dibatasi, khawatir diri kita melampaui batas dan jatuh terlena.
Hakekat nikmat yang harus kita rasakan adalah kala harta, pekerjaan, dan kedudukan dunia menjadikan wasilah dalam mengumpulkan bekal akhirat.
Kedudukan, harta, pekerjaan tak ada satupun yang dapat berguna di akhirat kelak..
Kecuali hal tersebut yang telah berbentuk dalam amalan baik (contoh : selama di dunia ia gunakan hartanya untuk bersedekah, selama bekerja di dunia ia tepati amanah pekerjannya tidak keluar di waktu jam kerja, kedudukannya ia gunakan seadil mungkin bukan untuk berbuat curang)
Teman dan orang-orang yang sangat menyayangi kitapun esok sibuk mengurusi pertanggung jawabannya masing-masing.
Lalu apa yang kau agung-agungkan dari dunia yang hanya sebagai persinggahan mencari bekal akhirat semata?
Wallahu A'lam.
1, Maret 2020
@beakhoirperson
-Bintu Haris.
Senin, 24 Februari 2020
"Teruntuk mereka.."
Aku bersyukur kepada Allah dengan segala nikmat yang telah ia berikan, kemudian :
Ada jutaan terima kasih teruntuk "mualif-mualif" kitab..
Ada jutaan terima kasih teruntuk "penulis-penulis" buku..
Ada jutaan terima kasih teruntuk "teman-teman" yang baru mulai menuangkan tulisan mereka dalam sebuah karya di jejak media sosial..
Karena lewat seni tulis mereka..
Karena lewat sastra bahasa mereka..
Aku diberi Allah kesempatan untuk membaca, menikmati, meniru, mencontoh kemudian sedikit berkarya dengan caraku sendiri.
Membuat untaian kata, takkan pernah bisa kulakukan tanpa banyak membaca untai kata sebelumnya.
Membuat goresan pena, takkan pernah bisa kulakukan tanpa banyak menikmati goresan jejak pena sebelumnya.
Awalnya aku membaca..
Kemudian aku menikmati..
Kemudian aku menuliskan kembali apa yang mereka tulis.. Kemudian aku mulai mencoba menulis dengan mengikuti cara mereka..
Kemudian Aku mulai memberanikan diri untuk membuat karyaku sendiri, untaian tulisanku sendiri, goresan penaku sendiri.
Semua itu ada, karena Allah setelah itu campur tangan mualif-mualif luar biasa yang pernah kubaca kitabnya, dan juga penulis-penulis hebat yang pernah kubaca bukunya, dan satu lagi yakni tangan-tangan mungil yang baru memulai karyanya lewat tulis jejak media, yang kerap kali menggugah diri ini yaitu teman-temanku yang kuharapkan akan menjadi penulis buku luar biasa nan bermanfaat di masa yang akan datang..
Bifadhlillah, kemudian wasilah kecil mereka, Aku mencoba berkarya..
Memang hanya karya sederhana, namun setidaknya Aku berani mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan..
Dengan pengharapan agar setiap karya yang mulai kutulis, bisa menjadi muhasabah bagi diri ini pribadi, kemudian bisa menjadi amal ma'ruf dan nahi munkarku, kemudian bisa menjadikan pembacanya yakni hamba-hamba Allah menjadi lebih baik dalam kehidupannya.
Menulislah karena Allah, agar setiap untaian kata yang kau tulis menjadikan keridhaan Allah ada di dalamnya, sehingga Allah juga yang akan membantu kita memasukkannya ke hati kita dan hati-hati manusia sebagai hidayah dan petunjuk.
Jazzakumullahu khairan,
My dearest writers in this world.
@beakhoirperson
Bintu Haris
"Belajarlah dari mereka yang sudah hidup lebih lama"
Pernah kubaca dalam sebuah buku dimana sang penulis mengucapkan di halaman pertama "Terima kasih ibu dan ayah, karena semua jejak hidupku ada karena pengajaran yang kau berikan."
Minggu lalu seorang teman menasehati, "Kalau kita mau meraih sebuah kesuksesan maka lewati dulu tangganya, kalau kita akan menaiki tangga pertama, maka tanyakan dulu kepada yang sudah pernah menaiki tangga itu sebelumnya "bagaimana caranya?" agar kau berhati-hati dalam melewatinya. Orang sukses, juga butuh bertanya bukan asal melangkah dan berakhir jatuh karena lengah."
Dan pagi tadi ibu menelpon, "Kakak mau ujian, minta doa sama ibu dan bapak, jangan lupa minta doa juga sama nenek-nenek (kedua kakek -rahimahumallah- Saya sudah meninggal jadi tak disebut oleh ibu). Dulu ibu setiap memiliki hajat, mau ujian kenaikan kelas, mau ujian masuk ptn, dan lain-lain ibu selalu meminta doa kedua orangtua, selain itu juga meminta doa kepada nenek dan kakek ibu. Karena terkadang mereka para orangtua, memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Rabbnya, dibanding dengan kita yang masih muda. Nggak ada salahnya kita meminta didoakan sama mereka, dan jangan lupa juga kakak berdoa untuk diri sendiri, dan perbaiki hubungannya sama Allah juga sama hamba-hambanya Allah."
Dari beberapa kejadian-kejadian di atas Saya menyimpulkan bahwa :
1. Belajarlah dari mereka yang lebih banyak memiliki pengalaman hidup, yang Allah berikan mereka kesempatan panjang menjalani hidup di dunia ini.
2. Doa sendiri, Doa orangtua, Doa orangtuanya orangtua, dan doanya orang-orang baik (yang masih hidup) bisa menjadi wasilah tersampaikannya doa kita.
3. Yakinlah kesuksesan yang kita pijak hari ini, merupakan bagian dari kegagalan mereka yang lebih dahulu hidup dari kita. Kalau orang-orang terdahulu pernah gagal atau jatuh di tangga ini, maka pastikanlah kita sebagai pendatang setelah mereka tak mengulangi kegagalan yang sama.
4. Sebagaimana kita mendengar bahwa banyak dari para orangtua yang hubungannya kepada Rabbnya lebih bagus, maka kita yang masih muda juga harus termotivasi akan hal ini. Harus berlomba-lomba dalam setiap kebaikan, jangan mau kalah, karena belum tentu jalur yang pernah dilewati orangtua akan kita lewati juga. Kemungkinannya ada dua, kita melewatinya namun dengan cara yang berbeda, atau kita tidak akan pernah melewatinya sama sekali karena Allah sudah mencukupkan umur kita di dunia. Kita yang hari ini, sedang berpacu dengan ajal, jangan sampai ajal menjemput dan kebaikan itu belum kita raih dengan banyak.
5. Kita harus selalu berdoa kepada Allah dan bermunajat kepadanya, namun ingat strategi juga perlu. Karena sebanyak apapun doa kita, kalau ternyata masih ada hak-hak hamba Allah yang kita tahan (seperti janji, hutang, dan lain-lain) maka bagaimana Allah mau mengabulkan doa kita. Segera selsaikan urusanmu dengan manusia di dunia, agar perkara akhiratmu tak ikut tertahan oleh karenanya.
Wallahu A'lam Bis Shawab.
@beakhoirperson
Bintu Haris.
Langganan:
Postingan (Atom)
Maaf
Bukan karena engkau orang buruk tapi karena aku tidak ingin menjadi buruk Aku tidak ingin merusak sesuatu yang telah kau mulai Hiduplah de...
-
بسم الله الرحمن الرحيم Karya DR V Abdurrahim Bin Abdussubhan kitab “Durusul Lughoh Al-Arabiyyah Li Ghairi Naatiqiina Bihaa” Ditulis ol...